Saat Istimewa untuk Menyelami Sengsara dan Kerahiman Yesus
Memahami makna Jam Kerahiman Ilahi pada pukul tiga sore, merenungkan Sengsara Kristus, dan belajar mempercayakan hidup kepada Kerahiman-Nya.
Jam Kerahiman Ilahi adalah saat yang secara khusus dikenang dalam devosi kepada Kerahiman Ilahi, yaitu sekitar pukul tiga sore, saat ketika Tuhan Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu Salib. Pada saat ini, umat beriman diajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan, mengenangkan Sengsara dan wafat Kristus, serta mengarahkan hati kepada Kerahiman-Nya.
Melalui pengalaman rohani Santa Faustina Kowalska, Tuhan Yesus memberikan perhatian khusus pada saat wafat-Nya dan mengajarkan bagaimana umat dapat menghayatinya. Pukul tiga sore menjadi kesempatan untuk berdiri secara rohani di kaki Salib, merenungkan Sengsara Kristus, dan memohon kerahiman bagi diri sendiri, keluarga, para pendosa, serta seluruh dunia.
Jam Kerahiman bukan sekadar kebiasaan mengucapkan doa pada waktu tertentu. Lebih dalam daripada itu, Jam Kerahiman merupakan undangan untuk memasuki misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Sengsara dan wafat Yesus Kristus, mempercayakan diri kepada-Nya, serta membiarkan Kerahiman Ilahi membentuk kehidupan kita.
Karena itu, memahami makna Jam Kerahiman Ilahi, cara berdoa pada pukul tiga sore, hubungan Jam Kerahiman dengan Sengsara Kristus, serta perbedaannya dengan Koronka kepada Kerahiman Ilahi akan membantu kita menghayati devosi ini dengan lebih benar, mendalam, dan penuh iman.
Apa yang Dimaksud dengan Jam Kerahiman?
Istilah Jam Kerahiman tidak berarti bahwa kita harus menghabiskan waktu selama enam puluh menit untuk melakukan rangkaian doa tertentu. Yang dimaksud adalah saat wafat Tuhan Yesus di kayu Salib, yang dikenang secara khusus pada pukul tiga sore.
Dalam penjelasan mengenai devosi yang diterima Santa Faustina, Tuhan Yesus meminta agar saat wafat-Nya dihormati dan dikenangkan secara khusus. Pada saat itu, umat diajak untuk mengarahkan hati kepada-Nya, merenungkan Sengsara-Nya, serta memohon kerahiman berdasarkan jasa Sengsara-Nya.
Dengan demikian, Jam Kerahiman bukan terutama persoalan lamanya seseorang berdoa. Yang terutama adalah arah hati kepada Yesus yang tersalib. Bahkan ketika seseorang hanya mempunyai waktu beberapa saat, ia tetap dapat berhenti sejenak, mengingat Sengsara Kristus, dan menyatukan dirinya secara rohani dengan Yesus yang wafat di kayu Salib.
Inilah salah satu keindahan Jam Kerahiman. Kita tidak selalu harus berada di gereja atau memiliki waktu yang panjang. Di tengah pekerjaan, perjalanan, maupun berbagai tanggung jawab kehidupan, kita tetap dapat mengarahkan hati kepada Tuhan.
Mengapa Pukul Tiga Sore Begitu Istimewa?
Pukul tiga sore mengingatkan umat Kristiani kepada saat Sengsara dan wafat Tuhan Yesus. Di kayu Salib, Kristus menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Karena itu, saat wafat-Nya memiliki makna yang sangat mendalam dalam kehidupan iman.
Dalam pengalaman rohani Santa Faustina, Tuhan Yesus menyebut saat tersebut sebagai “saat Kerahiman yang besar bagi seluruh dunia” (Buku Harian, 1320). Melalui Sengsara dan wafat-Nya, kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling mendalam.
Santa Faustina mencatat bahwa pada pukul tiga sore umat hendaknya memohon kerahiman, terutama bagi para pendosa, dan merenungkan Sengsara Kristus, bahkan jika hanya untuk sesaat.
“Pada pukul tiga sore, mohonlah kerahiman-Ku, khususnya untuk orang-orang berdosa; dan meskipun hanya sebentar, benamkanlah dirimu di dalam Sengsara-Ku, khususnya di dalam kesendirian-Ku pada waktu menghadapi sakratulmaut.
Inilah jam kerahiman yang besar bagi seluruh dunia.
Aku akan mengizinkan engkau masuk ke dalam dukacita-Ku yang begitu pedih.
Pada jam ini, Aku tidak akan menolak apa pun yang dimohon oleh jiwa-jiwa yang mengajukan permintaan kepada-Ku demi Sengsara-Ku ...”
— Buku Harian Santa Faustina, 1320
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa pusat Jam Kerahiman bukanlah jam sebagai benda atau angka pada sebuah penunjuk waktu, melainkan misteri Sengsara Kristus. Pukul tiga sore menjadi tanda yang mengarahkan hati kita kepada kasih Yesus yang dinyatakan melalui Salib.
Jam Kerahiman dan Misteri Salib Kristus
Salib merupakan pusat permenungan dalam Jam Kerahiman. Ketika kita memandang Kristus yang tersalib, kita tidak hanya melihat penderitaan, tetapi juga melihat kasih Allah yang menyerahkan diri demi keselamatan manusia.
Sengsara Kristus mengungkapkan bahwa dosa manusia sungguh memiliki akibat dan bahwa keselamatan bukan sesuatu yang murah. Namun pada saat yang sama, Salib menyatakan bahwa kasih dan kerahiman Allah jauh lebih besar daripada dosa dan kelemahan manusia.
Dalam misteri Salib, kita melihat bahwa Kristus dengan penuh ketaatan menyerahkan diri kepada Bapa. Karena itu, Jam Kerahiman mengundang kita bukan hanya untuk mengenangkan penderitaan Yesus, tetapi juga untuk menyembah, memuliakan, dan mempercayakan diri kepada Kerahiman-Nya.
Ketika kita berdiri secara rohani di kaki Salib, kita diajak untuk membawa seluruh kehidupan kita kepada Yesus: dosa dan kelemahan, keluarga dan pekerjaan, penderitaan dan harapan, serta kebutuhan orang-orang yang kita kasihi.
Bagaimana Cara Berdoa pada Jam Kerahiman?
Tuhan Yesus tidak memberikan kepada Santa Faustina suatu rumusan doa tertentu yang harus selalu diucapkan pada pukul tiga sore. Yang diberikan adalah arah, isi, dan semangat doa yang sesuai dengan makna Jam Kerahiman.
Dalam penjelasan mengenai Jam Kerahiman, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan sesuai dengan keadaan masing-masing.
1. Merenungkan Sengsara Kristus
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah Jalan Salib. Dengan merenungkan Sengsara Tuhan Yesus, kita diajak untuk semakin memahami kasih-Nya yang dinyatakan melalui pengorbanan di kayu Salib.
Jalan Salib bukan sekadar mengenangkan rangkaian penderitaan Kristus. Doa ini dapat menjadi kesempatan untuk membuka hati terhadap misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Sengsara dan wafat Putra-Nya.
2. Menyembah Yesus dalam Sakramen Mahakudus
Apabila keadaan memungkinkan, kita dapat pergi ke gereja atau kapel untuk berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus.
Di hadapan Tuhan, kita dapat berdiam diri, menyembah-Nya, mengucap syukur, memohon ampun, serta menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada-Nya.
Keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus dapat menjadi kesempatan untuk semakin menyadari bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan hadir dan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan hati yang percaya.
3. Berdoa di Mana Pun Kita Berada
Tidak semua orang dapat pergi ke gereja atau kapel pada pukul tiga sore. Ada yang sedang bekerja, mengurus keluarga, berada dalam perjalanan, atau menjalankan tanggung jawab lainnya.
Keadaan tersebut tidak menjadi penghalang untuk menghayati Jam Kerahiman. Jika kita tidak dapat melakukan Jalan Salib, kita dapat berhenti sejenak. Jika tidak dapat pergi ke kapel, kita dapat berdoa di tempat kita berada.
Bahkan ketika kita hanya mempunyai sedikit waktu, kita dapat mengarahkan hati kepada Yesus, mengenangkan Sengsara-Nya, dan berdiri secara rohani di kaki Salib.
Yang terutama bukan banyaknya kata-kata, melainkan hati yang sungguh-sungguh datang kepada Yesus.
Tiga Hal Penting dalam Doa Jam Kerahiman
Dalam penghayatan Jam Kerahiman, terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan agar doa kita sesuai dengan maksud devosi ini.
Dilakukan pada Pukul Tiga Sore
Doa Jam Kerahiman dilakukan pada pukul tiga sore, bukan pukul tiga pagi, untuk mengenangkan saat Sengsara dan wafat Tuhan Yesus.
Jika keadaan memungkinkan, kita dapat berhenti sejenak ketika waktu tersebut tiba. Namun apabila kesibukan membuat kita tidak dapat melakukan doa yang panjang, kita tetap dapat mengarahkan hati kepada Yesus walaupun hanya untuk beberapa saat.
Doa Ditujukan Langsung kepada Yesus
Hal penting berikutnya adalah bahwa doa pada Jam Kerahiman ditujukan secara langsung kepada Tuhan Yesus.
Kita datang kepada Yesus dengan kepercayaan seorang anak kepada Tuhannya. Kita dapat menyampaikan kepada-Nya penderitaan, kelemahan, harapan, serta kebutuhan kita.
Permohonan Mengacu kepada Jasa Sengsara Yesus
Hal ketiga adalah bahwa permohonan kita hendaknya dikaitkan dengan jasa Sengsara Tuhan Yesus.
Dasar kepercayaan kita bukanlah jasa atau kekuatan kita sendiri, melainkan kasih Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.
Karena itu, kita dapat mengungkapkan permohonan dengan sederhana, misalnya:
“Demi Sengsara-Mu yang penuh penderitaan, kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, kasihanilah kami dan seluruh dunia.”
Yang terpenting adalah doa tersebut lahir dari iman, kepercayaan, dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Jam Kerahiman Bukan Koronka kepada Kerahiman Ilahi
Hal ini penting untuk dipahami agar Jam Kerahiman dan Koronka kepada Kerahiman Ilahi tidak disamakan.
Keduanya merupakan bentuk devosi kepada Kerahiman Ilahi, tetapi keduanya adalah dua bentuk doa yang berbeda.
Koronka dapat didoakan pada pukul tiga sore, tetapi Tuhan Yesus tidak memberikan ketentuan bahwa Koronka harus didoakan pada pukul tiga sore. Koronka juga dapat didoakan kapan saja, siang maupun malam.
Sementara itu, doa pada Jam Kerahiman secara khusus berpusat pada saat wafat Yesus, merenungkan Sengsara-Nya, ditujukan langsung kepada-Nya, dan dalam permohonannya mengacu pada jasa Sengsara-Nya.
Perbedaan ini penting agar umat tidak menganggap bahwa setiap kali Koronka didoakan pada pukul tiga sore, dengan sendirinya doa tersebut merupakan bentuk doa Jam Kerahiman.
Dengan demikian, kita dapat memilih untuk mendoakan Koronka pada pukul tiga sore, atau menghayati doa Jam Kerahiman sesuai dengan maksudnya. Keduanya dapat dilakukan dengan penuh iman dan kepercayaan kepada Kerahiman Allah.
Jam Kerahiman sebagai Pertemuan Pribadi dengan Yesus
Jika dihayati dengan sungguh-sungguh, Jam Kerahiman bukan hanya menjadi sebuah kebiasaan berdoa. Jam Kerahiman dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan pribadi dengan Yesus.
Pada pukul tiga sore, kita dapat meninggalkan sejenak kebisingan dunia dan memasuki keheningan hati.
Kita mengingat Sengsara-Nya.
Kita memandang Salib-Nya.
Kita menyadari betapa besar kasih-Nya.
Kita membawa kelemahan dan kegagalan kita.
Kita membawa keluarga dan orang-orang yang kita kasihi.
Kita membawa mereka yang sedang menderita.
Kita membawa para pendosa.
Dan kita membawa seluruh dunia ke dalam doa.
Semua itu kita letakkan di hadapan Hati Yesus yang penuh kerahiman.
Dengan demikian, Jam Kerahiman menjadi sebuah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri Salib dan menyerahkan hidup kepada Kristus dengan penuh kepercayaan.
Memohon Kerahiman bagi Seluruh Dunia
Pesan Jam Kerahiman tidak berhenti pada kebutuhan pribadi. Tuhan Yesus meminta Santa Faustina untuk memohon kerahiman bagi seluruh dunia, terutama bagi para pendosa yang paling membutuhkan kerahiman Allah.
Ini berarti bahwa ketika kita berdoa pada pukul tiga sore, hati kita hendaknya diperluas.
Jangan hanya: “Tuhan, sembuhkan saya.”
Tetapi juga: “Tuhan, kasihanilah mereka yang sedang sakit.”
Jangan hanya: “Tuhan, ampuni dosa saya.”
Tetapi juga: “Tuhan, kasihanilah mereka yang jauh dari-Mu.”
Jangan hanya: “Tuhan, berkati keluargaku.”
Tetapi juga: “Tuhan, curahkanlah kerahiman-Mu kepada seluruh dunia.”
Dengan demikian, doa Jam Kerahiman membawa kita keluar dari lingkaran diri sendiri dan mengajar kita memiliki hati yang semakin menyerupai Hati Yesus.
Hati yang tidak hanya melihat penderitaannya sendiri, tetapi juga mampu melihat penderitaan orang lain. Hati yang tidak hanya memohon pengampunan bagi dirinya, tetapi juga berdoa bagi mereka yang jauh dari Tuhan. Hati yang tidak hanya membawa keluarganya kepada Tuhan, tetapi juga membawa seluruh dunia ke dalam doa.
Inilah salah satu buah indah dari penghayatan Jam Kerahiman: semakin kita mengenal Kerahiman Yesus, semakin hati kita dipanggil untuk menjadi berbelaskasihan kepada sesama.
Kerahiman Harus Menjadi Perbuatan
Devosi kepada Kerahiman Ilahi tidak berhenti pada doa. Kerahiman juga harus menjadi cara hidup.
Ketika kita memohon agar Allah berbelaskasihan kepada kita, kita pun dipanggil untuk belajar berbelaskasihan kepada sesama.
Ketika kita memohon pengampunan, kita dipanggil untuk belajar mengampuni.
Ketika kita menerima kasih Allah, kita dipanggil untuk membagikan kasih itu kepada orang lain.
Karena itu, doa Jam Kerahiman hendaknya berjalan bersama dengan perbuatan kasih dan kerahiman terhadap sesama.
Kerahiman Ilahi bukan hanya sesuatu yang kita mohon dalam doa, tetapi juga sesuatu yang kita hidupi dan kita bagikan melalui perkataan, sikap, pengampunan, pertolongan, dan perbuatan kasih.
Janji Tuhan Yesus pada Jam Kerahiman
Dalam Buku Harian Santa Faustina, terdapat perkataan Tuhan Yesus mengenai rahmat yang berkaitan dengan doa pada saat wafat-Nya.
“Pada pukul tiga sore, mohonlah kerahiman-Ku, khususnya untuk orang-orang berdosa; dan meskipun hanya sebentar, benamkanlah dirimu di dalam Sengsara-Ku, khususnya di dalam kesendirian-Ku pada waktu menghadapi sakratulmaut.
Inilah jam kerahiman yang besar bagi seluruh dunia.
Aku akan mengizinkan engkau masuk ke dalam dukacita-Ku yang begitu pedih.
Pada jam ini, Aku tidak akan menolak apa pun yang dimohon oleh jiwa-jiwa yang mengajukan permintaan kepada-Ku demi Sengsara-Ku ...”
— Buku Harian Santa Faustina, 1320
Dalam catatan lainnya, Santa Faustina juga menuliskan:
“Aku mengingatkan engkau, Putri-Ku, setiap kali engkau mendengar bunyi jam yang menunjukkan pukul tiga petang, benamkanlah dirimu sepenuhnya dalam kerahiman-Ku sambil menyembah dan memuliakannya; mohonlah bantuannya yang mahakuasa bagi seluruh dunia, khususnya bagi orang-orang berdosa yang malang, sebab pada saat ini, kerahiman-Ku terbuka lebar bagi setiap jiwa. Pada jam ini, engkau dapat memperoleh segala sesuatu bagi dirimu sendiri dan bagi orang-orang lain yang engkau doakan; inilah saat rahmat bagi seluruh dunia - saat kerahiman yang mengalahkan keadilan.”
“Putri-Ku, berusahalah sebaik-baiknya untuk melaksanakan Jalan Salib pada jam ini, asal saja tidak terhalang oleh tugas-tugasmu; kalau tidak mungkin melaksanakan Jalan Salib, sekurang-kurangnya masuklah ke kapel barang sejenak dan sembahlah Hati-Ku yang penuh kerahiman dalam Sakramen Mahakudus; dan kalau untuk masuk ke kapel pun tidak mungkin, di mana pun kebetulan engkau berada, benamkanlah dirimu dalam doa, biarpun hanya sebentar.
Aku menuntut penghormatan terhadap kerahiman-Ku dari setiap makhluk, terutama dari engkau karena kepadamulah Aku telah memberikan pemahaman yang paling mendalam tentang misteri ini.”
— Buku Harian Santa Faustina, 1572
Janji tersebut hendaknya dipahami dalam terang keseluruhan pesan Kerahiman Ilahi. Doa bukanlah sebuah rumus untuk memperoleh apa pun yang kita inginkan. Permohonan kita tetap harus sesuai dengan kehendak Allah dan lahir dari hati yang percaya kepada-Nya.
Karena itu, kepercayaan kepada Kerahiman Allah tidak berarti memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Sebaliknya, kita menyerahkan permohonan kita kepada-Nya sambil percaya bahwa Allah mengetahui apa yang sungguh-sungguh baik bagi kita dan bagi mereka yang kita doakan.
Apa yang Dapat Kita Lakukan pada Pukul Tiga Sore?
Tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk pergi ke gereja atau kapel pada pukul tiga sore. Ada yang sedang bekerja, mengurus keluarga, berada dalam perjalanan, atau menjalankan berbagai tanggung jawab kehidupan.
Namun keadaan tersebut tidak menghalangi kita untuk mengarahkan hati kepada Tuhan.
Berhenti Sejenak
Jika kita tidak dapat melakukan Jalan Salib, kita dapat berhenti sejenak.
Berdoa di Tempat Kita Berada
Jika kita tidak dapat pergi ke kapel, kita dapat berdoa di tempat kita berada.
Mengenangkan Sengsara Yesus
Jika kita tidak mempunyai waktu yang panjang, kita dapat mengambil beberapa saat untuk mengenangkan Sengsara Yesus.
Kita dapat menenangkan hati dan secara rohani berdiri di kaki Salib.
Kita dapat berkata:
“Yesus, aku percaya kepada-Mu. Demi Sengsara-Mu yang penuh penderitaan, kasihanilah aku, kasihanilah keluargaku, kasihanilah para pendosa, dan kasihanilah seluruh dunia.”
Doa tidak harus panjang. Yang terutama adalah hati yang sungguh-sungguh datang kepada Yesus dengan iman dan kepercayaan.
Pukul Tiga Sore: Saat untuk Berhenti dan Memandang Salib
Dunia terus bergerak. Pekerjaan terus menunggu. Berbagai tanggung jawab dan persoalan datang silih berganti.
Namun setiap pukul tiga sore, kita memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali pusat kehidupan kita: Yesus Kristus.
Berhenti sejenak bukan berarti melarikan diri dari kehidupan. Sebaliknya, kita berhenti agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan hati yang diarahkan kepada Tuhan.
Pukul tiga sore mengingatkan kita bahwa ada kasih Allah yang lebih besar daripada dosa kita. Ada kerahiman yang lebih dalam daripada kegagalan kita. Ada pengampunan yang lebih luas daripada kelemahan kita.
Dan ada Salib Kristus yang senantiasa mengingatkan kita akan kasih Allah yang menyerahkan diri demi keselamatan manusia.
Di Golgota, Yesus menyerahkan diri-Nya dalam kasih. Dari Salib itulah kita memandang kedalaman Kerahiman Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus.
Menjadikan Jam Kerahiman sebagai Jalan Hidup
Pada akhirnya, Jam Kerahiman bukan hanya tentang pukul tiga sore. Lebih dalam daripada itu, Jam Kerahiman mengundang kita untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Yesus dan menjadikan Kerahiman Ilahi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Setiap hari kita belajar datang kepada-Nya.
Kita belajar mempercayai-Nya.
Kita belajar menyandarkan hidup pada Sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Kita belajar mengampuni.
Kita belajar mengasihi.
Kita belajar berbelaskasihan.
Dengan demikian, Kerahiman Ilahi tidak hanya menjadi sesuatu yang kita doakan, tetapi juga menjadi sesuatu yang membentuk cara kita berpikir, berbicara, bertindak, dan memperlakukan sesama.
Penutup: Yesus, Engkaulah Kerahiman Ilahi
Ketika jam menunjukkan pukul tiga sore, marilah kita mengingat satu kenyataan iman yang sederhana namun sangat mendalam: Yesus telah menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.
Pada saat itu, marilah kita datang kepada-Nya bukan dengan kesombongan, bukan karena merasa diri sudah sempurna, melainkan dengan hati seorang anak yang percaya kepada Bapanya.
Marilah kita berdiri secara rohani di kaki Salib.
Marilah kita memandang Yesus.
Marilah kita menyembah Kerahiman-Nya.
Marilah kita membawa diri kita, keluarga kita, mereka yang sedang menderita, para pendosa, dan akhirnya seluruh dunia ke dalam doa kita.
Sebab pada pukul tiga sore, kita mengenangkan saat ketika kasih dan Kerahiman Allah dinyatakan secara begitu mendalam melalui Sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Semoga Jam Kerahiman membantu kita semakin percaya kepada Tuhan, semakin mencintai Kristus, semakin mampu mengampuni, dan semakin setia menghadirkan kerahiman kepada sesama.
“Yesus, demi Sengsara-Mu yang penuh penderitaan, kasihanilah kami dan seluruh dunia.”
Yesus, Engkaulah Kerahiman Ilahi.
Yesus, Engkau Andalanku.
Sumber
Sr. M. Elżbieta Siepak ISMM, Hour of Mercy, Congregation of the Sisters of Our Lady of Mercy.
Santa Maria Faustina Kowalska, Buku Harian: Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku, khususnya nomor 1320 dan 1572.