} -->

BAGIAN 2 : Apa yang Sebenarnya Kita Maksud Dengan “Hati Yesus”?


Lebih Cemerlang daripada Matahari
BAGIAN 2

Apa yang Sebenarnya Kita Maksud Dengan “Hati Yesus”?

Sebuah permenungan tentang Hati fisik Yesus, Hati rohani-Nya, kasih-Nya, dan kedalaman misteri Pribadi Ilahi-Nya.

Hati Kudus Yesus — misteri terdalam kasih Kristus.

Mari kita mulai dari awal. Apa yang sebenarnya kita maksud ketika  berbicara tentang devosi kepada “Hati” Yesus? Apakah kita sungguh-sungguh berbicara tentang Hati-Nya secara fisik—jantung yang berdetak di dalam dada-Nya? Bukankah sebenarnya kita hanya menggunakan “Hati” sebagai sebuah simbol: simbol kasih-Nya, seperti lambang hati yang sering kita lihat pada kartu Hari Valentine?

Yah, ya… tetapi juga tidak.

Saya pernah menulis mengenai hal ini, dan kiranya baik untuk mengulanginya kembali. Jantung fisik manusia tidak dengan sendirinya merupakan simbol dari keutamaan dan keindahan “kasih”, sebab tidak semua hati manusia dipenuhi kasih. Sebaliknya, sebagaimana pernah saya tuliskan:

Jantung (fisik) manusia secara fisik merupakan simbol dari misteri terdalam pribadi seseorang. Ketika kita berbicara tentang “hati” seseorang, kita berbicara tentang apa yang sesungguhnya menggerakkan dirinya—apa yang, jauh di lubuk hatinya, apa yang sungguh-sungguh ia pikirkan, rasakan, dan kehendaki. Sebagaimana dikatakan Katekismus Gereja Katolik, no. 2563: “Hati adalah pusat kita yang tersembunyi, yang berada di luar jangkauan akal budi kita maupun orang lain; hanya Roh Allah yang dapat menyelami hati manusia dan mengenalnya sepenuhnya.” 

Sekali lagi, hati kita adalah misteri terdalam dari pribadi kita; itu adalah "pusat tersembunyi" kita, dari mana sebagian besar dari apa yang kita pikirkan dan katakan dan lakukan berasal.

Menurut Alkitab, beberapa orang berhati dingin, atau keras hati; mereka memiliki hati "batu". (misalnya, Yeh 11:19). Misteri Hati Yesus, bagaimanapun, telah diungkapkan kepada kita melalui Injil, dan diungkapkan dengan indah dalam wahyu kenabian-Nya kepada St. Margaret Maria.

Apa pun yang mungkin kita katakan mengenai hati manusia lainnya, pusat tersembunyi dari Pribadi ini, tetapi —Yesus dari Nazaret—adalah Hati yang menyala-nyala dengan kasih: kasih kepada Bapa-Nya di surga dan kasih kepada kita.

Itulah sebabnya Yesus memperlihatkan Hati-Nya secara fisik kepada Santa Margareta Maria sebagai Hati yang menyala-nyala oleh api, dimahkotai dengan salib, ditikam, dan dikelilingi oleh mahkota duri. 

Semua ini adalah tanda dan simbol yang jelas bahwa Hati ini — “pusat tersembunyi” atau misteri terdalam dari pribadi Yesus Kristus — adalah kasih yang murni: Hati Kudus Yesus yang sepenuhnya adalah kasih dan sepenuhnya layak untuk dikasihi.

Bagian Pertama Hati Fisik-Nya

Jadi, meskipun objek utama pengabdian ini memang pribadi Yesus Kristus, karena kasih-Nya yang tak terukur, yang dilambangkan dengan Hati-Nya, objek awal pengabdian kita haruslah Hati fisik Juruselamat kita yang nyata.

Mengapa kita harus memulainya dari sana?

Karena Hati-Nya yang fisik—sebagaimana jantung fisik setiap manusia—secara alamiah menjadi lambang dari apa yang paling dalam dicintai oleh seseorang, entah itu sesuatu yang baik maupun sesuatu yang buruk.

Pertimbangkan: Jantung fisik terletak di pusat tubuh manusia, dan vital bagi kesehatan seluruh tubuh.

Jantung berada di pusat tubuh kita dan memompa darah ke seluruh tubuh, sampai ke ujung-ujung tubuh kita agar kita dapat hidup. Begitu juga kasih mengalir dari pusat diri kita, menopang jiwa kita dan memancar keluar kepada orang lain. Kasih dimaksudkan untuk mengalir tidak hanya ke dalam tindakan kita, tetapi juga ke dalam interaksi dan hubungan kita dengan keluarga, teman, dan semua orang yang melintasi jalan kita.

Emily Jaminet, Secrets of the Sacred Heart, Notre Dame: Ave Maria Press, 2020, hlm. xii

Namun, jika hati rohani kita rusak pada intinya, jika ia tidak memiliki Roh Kudus yang memberikan kehidupan, maka apa yang “dipompakan” dari hati itu ke dalam seluruh tindakan dan hubungan kita dapat berubah menjadi sesuatu yang beracun dan menghancurkan kehidupan.

Sebaliknya, Hati rohani Yesus, yang ditampilkan dengan begitu jelas dalam Injil dan dilambangkan oleh Hati fisik-Nya dalam pewahyuan kepada Santa Margareta Maria, adalah Hati yang menyala dengan api Roh Kudus—Roh Kebenaran dan Roh Kasih (bdk. Yoh 16:13; Rm 5:5).

Dia benar-benar “Tuhan dan pemberi kehidupan,” seperti yang kita katakan dalam Syahadat.

Bagian Kedua Emosi

Hati fisik manusia adalah simbol alami dari apa yang kita cintai dengan cara lain, juga. Kita mengetahui dari pengalaman bahwa jantung merupakan semacam perekam fisik dari emosi kita, dan bahwa emosi kita pada akhirnya berkaitan erat dengan apa yang paling kita cintai.

Misalnya, ketika kita berada di dekat orang yang kita kasihi, atau ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang paling kita sayangi, jantung kita dapat berdetak lebih cepat dan secara fisik mencerminkan perasaan kasih kita.

Sebaliknya, ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang paling kita takuti—terutama jika hal itu terjadi secara tiba-tiba—kita sering mengatakan bahwa jantung kita “seakan berhenti berdetak” atau “berdebar kencang”. Dan secara harfiah, hal itu memang dapat terjadi!

Kenyataannya adalah bahwa perasaan batin seperti kesedihan dan kasih meninggalkan pengaruh yang lebih kuat dan lebih nyata pada jantung daripada pada bagian tubuh manusia lainnya. Itulah sebabnya orang bahkan dapat meninggal karena apa yang kita sebut sebagai “patah hati.”

Seperti yang akan kita lihat di sepanjang seri ini, hal yang sama juga terjadi pada Hati Yesus.

Paus Santo Yohanes Paulus II mengungkapkannya demikian dalam renungannya mengenai Litani Hati Kudus:

Ungkapan “Hati Yesus” segera mengingatkan kita akan kemanusiaan Kristus dan menonjolkan kekayaan perasaan-Nya: belas kasih-Nya kepada orang-orang sakit, kasih khusus-Nya kepada kaum miskin, kerahiman-Nya terhadap orang-orang berdosa, kelembutan-Nya terhadap anak-anak, ketegasan-Nya dalam mengecam kemunafikan, kesombongan, dan kekerasan, kelemahlembutan-Nya terhadap para lawan-Nya, semangat-Nya demi kemuliaan Bapa-Nya, serta sukacita-Nya dalam rencana kasih karunia yang penuh misteri dan kebijaksanaan.

Paus St. Yohanes Paulus II, Angelus Meditations on the Litany of the Sacred Heart, Huntingdon, IN: Our Sunday Visitor, 1992, p. 23

Karena itu, dalam devosi kepada Hati Kudus, kita dipanggil untuk menggunakan gambaran Hati fisik Kristus sebagai langkah pertama dalam sebuah tangga kontemplasi.

1

Hati Fisik

Tanda alami dari kasih dan kasih sayang Yesus yang terungkap dalam kehidupan-Nya.

2

Hati Rohani

Kedalaman jiwa manusia Yesus, tempat kasih-Nya diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.

3

Cinta Ilahi

Kasih tak terbatas yang dinyatakan melalui Pribadi Ilahi Anak Allah.

Pertama-tama, kita menghormati dan menyembah Hati fisik Yesus sebagai tanda dan ungkapan alamiah dari seluruh kasih sayang-Nya—kasih sayang yang dapat kita renungkan melalui Injil. (seperti yang dilakukan oleh Paus St. Yohanes Paulus II di atas).

Kasih sayang tersebut mencerminkan keutamaan kasih yang berdiam dalam kedalaman jiwa manusiawi-Nya, yakni apa yang dapat kita sebut sebagai “Hati rohani-Nya.” Hati rohani itu dinyatakan dalam segala sesuatu yang dilakukan-Nya: dalam pewartaan-Nya, penyembuhan-Nya, penderitaan-Nya, wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya. Semuanya dilakukan-Nya untuk mendekat kepada kita dan menyelamatkan kita dari dosa serta kematian kekal.

Namun, Yesus bukan hanya seorang nabi dan martir yang saleh, tetapi Allah Putra secara pribadi, Pribadi Kedua dari Trinitas yang mengambil daging manusia dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14); keutamaan kasih yang terdapat dalam Hati manusiawi dan rohani-Nya haruslah menjadi ungkapan yang berinkarnasi dan bercahaya dari Kasih Ilahi yang senantiasa menyala dalam Hati-Nya—kasih kepada Bapa-Nya di surga dan kasih kepada seluruh umat manusia.

Dengan demikian, kita menaiki sebuah tangga kontemplasi: dari kasih yang tercermin dalam detak Hati fisik-Nya, menuju keutamaan kasih yang hidup dalam jiwa manusiawi-Nya, atau Hati rohani-Nya, dan akhirnya menuju kepada ketinggian Kasih yang tak terbatas, yang dinyatakan melalui keduanya dan memancar dari Pribadi Ilahi Sang Putra Allah—“lebih cemerlang daripada matahari.”

Bagian Ketiga Kedalaman Kasih

Dengan demikian devosi kepada Hati Yesus memang dimulai dengan Hati fisik-Nya — tetapi tidak berhenti di situ.

Ketika kita menghormati dan menyembah Hati tersebut, kita tidak sekadar menyembah salah satu bagian dari Tubuh fisik-Nya secara terpisah.

Sebaliknya, kita menyembah Pribadi Ilahi yang memiliki Hati fisik itu, sekaligus kedalaman kasih yang hidup dalam jiwa atau roh manusiawi-Nya dan yang tercermin melalui Hati fisik tersebut, serta dinyatakan dalam segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan-Nya bagi kita.

Di Yunani kuno dan Roma, seorang pria yang telah memenangkan perlombaan dimahkotai dengan karangan bunga daun salam. Penghormatan terhadap kepalanya ini tidak dimaksudkan hanya untuk menghormati sebagian tubuhnya, tetapi untuk menghormati bagian itu sebagai tanda dan simbol pribadi secara keseluruhan.

Demikian pula, kita menyembah dan menghormati Hati fisik Yesus sebagai bagian dari diri-Nya yang paling kuat melambangkan keseluruhan Pribadi-Nya.

Lebih tepat lagi, kita menghormati Hati fisik-Nya sebagai bagian dari Tubuh-Nya yang melambangkan misteri terdalam dari Pribadi Ilahi-Nya: yakni kasih-Nya yang tak terselami, kasih yang dinyatakan dalam seluruh Kemanusiaan-Nya yang kudus, kasih yang terlihat dengan jelas dalam segala sesuatu yang Ia rasakan, katakan, dan lakukan, mulai dari kelahiran-Nya di Betlehem hingga kenaikan-Nya ke surga dari Bukit Zaitun.

Inilah misteri Kasih-Nya yang tak terbatas, murah hati, dan penuh belas kasih.

Jadi, ketika kita memandang Hati Kudus Yesus, kita tidak berhenti pada gambaran sebuah hati yang menyala-nyala.

Kita diajak masuk semakin dalam:

dari Hati yang tampak, menuju kasih yang hidup dalam jiwa manusiawi-Nya; dari kasih dalam jiwa manusiawi-Nya, menuju Kasih Ilahi; dan dari Kasih Ilahi itu, kita menemukan Pribadi Yesus sendiri.

Hati Kudus bukan sekadar simbol tentang kasih.

Hati Kudus adalah jalan untuk masuk ke dalam misteri Pribadi Yesus Kristus—Allah yang menjadi manusia, yang mengasihi Bapa dan mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas.

Kelanjutan Seri Bagian 3

Seri ini berlanjut dengan Bagian 3:

“Pengabdian kepada Hati Yesus dan Akarnya dalam Kitab Suci”

Robert Stackpole, STD adalah direktur Institut Kerahiman Ilahi John Paul II.