-->

Bukti Sakramen Pengakuan Dosa dari Bapa Gereja

 Mengenal Sakramen Pengakuan Dosa

(Bagian 2B)


Bukti Sakramen Pengakuan Dosa dari Bapa Gereja
 

Pembuktian di atas dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita bahwa ada suatu konsistensi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, bahkan terus berlanjut sampai saat ini. 

Mari kita lihat bagaimana para Bapa Gereja pada abad awal menerapkan Sakramen Pengakuan Dosa, yang juga membuktikan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik, namun berdasarkan Alkitab dan Tradisi suci yang terus berkembang secara konsisten, yang diturunkan sejak dari jaman para rasul. 

  • Didache (awal abad ke-2) mengatakan pentingnya pertobatan dan mengakukan dosa sebelum menerima Komuni Kudus. (Bab 14): “Tetapi pada Hari Tuhan, berkumpullah kamu, dan memecah roti, dan mengucap syukur setelah mengakukan dosa-dosamu, supaya kurbanmu menjadi murni….” 

  • St. Clemens dari Roma (+96) mengatakan kepada jemaat di Korintus untuk taat kepada para penatua (presbyters) dan untuk menerima disiplin dan melakukan silih dosa dengan sepenuh hati (Cor. 57,1). Karena disebutkan “para penatua,” maka dapat disimpulkan sebagai disiplin dari Gereja. 

  • St. Ignasius dari Antiokia (+107) mengatakan bahwa Tuhan mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada persatuan dengan Tuhan dan kepada persatuan dengan para uskup. (Philad. 8, I; cf. 3,2) 

  • St. Policarpus, murid rasul Yohanes, (+156) mengatakan kepada para penatua untuk lebih lemah lembut dan berbelaskasihan kepada semua, jangan terlalu keras dalam keputusan (catatan penulis: dalam pengakuan dosa), karena tahu bahwa kita semua adalah pendosa. (Phil 6,1) 

  • St. Irenaeus (+202) melaporkan banyak kejadian tentang orang-orang yang melakukan pelanggaran dosa dan kemudian diterima kembali dalam komunitas Gereja setelah mengakukan dosanya secara terbuka, melakukan silih dosa (Adv. Haer. I 6,3; I 13,5,7; IV 40, I). 

  • Tertullian (155-222) dalam tulisannya De Poenitentia, mengatakan bahwa ada dua penitensi, yang pertama adalah sebagai persiapan untuk Baptisan (C. I-6), dan yang kedua adalah penitensi setelah Baptisan (C. 7-12). 

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-211) mengatakan bahwa pintu-pintu terbuka untuk semua, di mana dalam kebenaran seluruh hatinya kembali kepada Tuhan, dan Tuhan menerima dengan hati yang penuh kegembiraan anak-anak yang benar-benar melakukan silih dosa (Quis dies salvetur 39, 2; cf. 42).… yang membutuhkan kerja keras adalah pengampunan dosa dengan melakukan silih dosa, dimana diperoleh dari pengakuan dosa di depan “imam dari Tuhan” dan mempraktekan silih dosa yang berat (In Lev. Hom 2, 4). Cf. C. Celsum III-51. 

  • St. Cyprian (+258) mengemukakan bahwa Gereja Katolik mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27). 

  • St. Ambrose (+338) mengatakan bahwa dosa diampuni melalui Roh Kudus. Namun manusia memakai para pelayan Tuhan untuk mengampuni dosa, mereka tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri. Karena mereka mengampuni dosa bukan atas nama mereka, namun atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Mereka meminta, dan Tuhan memberikannya… (On The Holy Spirit, Bk.3, Chap. 18; ML 16, 808; NPNF X, 154). 

  • St. Agustinus dari Hippo (+354-430) mengatakan bahwa jangan memperdulikan orang-orang yang menolak bahwa Gereja Tuhan mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa … (The Christian Combat, Chap. 31:33; ML 40, 308; FC IV, 350). 

Dari sini kita melihat bahwa jemaat awal, yang diwakili oleh para Bapa Gereja telah menyatakan bahwa Gereja Katolik sesuai dengan perintah Yesus diberi kuasa untuk mengampuni atau tidak mengampuni dosa. Jadi sampai tahap ini, kita tahu bahwa Alkitab mendukung adanya Sakramen Pengakuan Dosa dan tulisan para Bapa Gereja memperkuat bahwa Sakramen Pengakuan Dosa telah diterapkan pada jemaat awal, walaupun dengan cara yang berbeda dengan sekarang. 

Di samping para Bapa Gereja, para pendiri gereja Protestan- pun mengajarkan Pengakuan dosa kepada seorang ‘confessor‘, seperti yang diutarakan oleh Martin Luther: 

Dalam bukunya “Small Catechism” di bagian pengakuan dosa atau “Confession”, Luther mengatakan bahwa pengakuan dosa terdiri dari dua bagian: (1) kita mengakukan dosa kita, (2) kita menerima absolusi, atau pengampunan dosa, dari pemberi pengakuan dosa atau “confessor”, seperti menerimanya dari Tuhan sendiri.[6] 

Luther juga mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan seseorang mengambil pengakuan dosa pribadi darinya, dan dia tidak akan menyerahkan harta yang tak ternilai, karena dia tahu akan kekuataan yang didapatkan dari pengakuan dosa.…. Biarlah setiap orang datang dan mengakukan dosanya kepada yang lain secara rahasia, dan menerima apa yang dia katakan seperti Tuhan sendiri yang berbicara melalui mulut orang tersebut. [7] 

Dari sini kita melihat, bahwa pendiri gereja Protestan-pun mempunyai penghargaan yang begitu tinggi terhadap pengakuan dosa. Jadi, kalau kita tetap berprinsip bahwa Sakramen Pengakuan Dosa hanyalah karangan Gereja Katolik semata, maka prinsip ini sama saja dengan mengatakan bahwa semua Bapa Gereja melakukan kesalahan dan tidak tahu apa-apa dalam menafsirkan Alkitab, termasuk di sini adalah Martin Luther. Martin Luther sendiri, walaupun tidak membuat pengakuan dosa sebagai satu sakramen, namun dia mengatakan bahwa dia begitu menghargainya, karena pengakuan dosa memberikan kekuatan. Luther tidak mengatakan – di bagian Confession dari Small Catechism – bahwa kita mengaku secara langsung kepada Tuhan, namun Luther mengaku bahwa diperlukan confessor atau orang yang menerima pengakuan dosa. Pertanyaannya adalah, kenapa begitu banyak gereja yang menghilangkan pengakuan dosa dan mengatakan bahwa cukup untuk mengaku kepada Tuhan secara langsung? Ini adalah bahan permenungan bagi kita. 

Perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa dalam sejarah Gereja 

Pada masa awal, dosa-dosa berat yang dilakukan umat yang telah dibaptis, hanya dapat diampuni setelah mereka disatukan kembali ke dalam Gereja melalui uskup. Beberapa ajaran yang bertentangan dengan Gereja Katolik mengatakan bahwa dosa-dosa yang berat dan serius, seperti: perzinahan, kemurtadan, dan pembunuhan tidak dapat diampuni. Namun, Gereja Katolik melalui Konsili of Nicea (325) menolak hal tersebut dan mengatakan bahwa Yesus mengajarkan untuk mengampuni semua pendosa. Pada tahap ini, Sakramen Pengakuan Dosa hanya dipraktekkan untuk mengampuni dosa-dosa yang berat, dan biasanya dilakukan secara terbuka di depan seluruh umat dan juga uskup.[8] Kemudian uskup akan memberikan penitensi atau silih dosa, yang kemudian pada hari Paskah mereka yang telah menjalani penitensi diterima kembali dalam komunitas. 

Pada abad ke-6, para biarawan dari Irlandia mulai menerapkan pengakuan dosa untuk dosa-dosa yang tidak berat dan juga dilakukan secara pribadi bukan umum. Dan kemudian penitensi juga diperingan. 

Pada abad ke-12, dicapai suatu rumusan yang baku yang direrapkan sampai sekarang. Dimana Sakramen Pengakuan Dosa terdiri dari empat bagian: 

  1. penyesalan atau “contrition” (dukacita dan konversi),
  2. pengakuan dosa kepada pastor,
  3. penitensi atau “satisfaction” (melakukan penitensi sebagai konsekuensi dari dosa yang dilakukan),
  4. pengampunan atau “absolution” (pengampunan dari Tuhan, yang dilakukan melalui pastor). 

Pada abad ke-16, gerakan Protestantism mempertanyakan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa. Sebagai jawaban, Konsili Trente (1551) mendefinisikan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa, yang terdiri dari empat hal diatas: contrition, confession, satisfaction, dan absolution [9] Roman Catechism (1566) mendefinisikan secara jelas tentang essensi dan ritual dari sakramen ini. 

Pada abad ke-20, Konsili Vatican II (1962-1965) dan Katekismus Gereja Katolik (1986-1992)[x] menegaskan kembali keempat komponen dari Sakramen Pengakuan Dosa, namun dengan mengadakan pendekatan yang lebih bersifat “pastoral“. Penggunaan ayat-ayat kitab suci ditambahkan, diberikan kesempatan untuk mengaku dosa berhadapan muka dengan pastor atau dibatasi oleh penyekat, sehingga pastor tidak mengenal siapa orang yang mengaku dosa. Juga diijinkan untuk mengadakan ibadah tobat secara bersama-sama, yang kemudian disusul dengan pengakuan dosa secara pribadi. Alternatif yang lain, dalam kondisi yang benar-benar terpaksa, seperti dalam perang, kecelakaan fatal, dll, dapat diberikan pengampunan secara bersama-sama. 

Perkembangan organik dari Sakramen Pengampunan Dosa 

Setelah kita melihat pembuktian dari Alkitab, Bapa Gereja, dan juga penerapan dan perkembangan doktrin Sakramen Pengakuan Dosa, kita dapat menyimpulkan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik semata, namun sungguh-sungguh bersumber kepada Yesus. Dan kalau dilihat perkembangan dari doktrin ini hanya semata-mata untuk membuatnya menjadi lebih jelas. Perkembangan doktrin seperti ini adalah disebut “perkembangan organik“, seperti yang dituturkan oleh Cardinal John Henry Newman dalam bukunya “The Development of Christian Doctrine“.[11] 

Perkembangan organik adalah tanda bahwa doktrin ini berkembang secara murni dan tidak dibuat-buat atau merupakan karangan gereja. Ini bukanlah sesuatu yang tadinya tidak ada, baru setelah ribuan tahun menjadi ada. Yang perlu dipertanyakan adalah, kalau dari tadinya ada – seperti yang telah ditunjukkan oleh bukti-bukti diatas – kenapa tiba-tiba setelah jaman Martin Luther dan juga penerusnya menjadi tidak ada? 

Untuk mengatakan bahwa sakramen ini hanya merupakan karangan belaka, orang tersebut harus berani juga berkata bahwa dia lebih pandai dalam menafsirkan apa yang dikatakan oleh Yesus dan para rasul daripada jemaat Kristen abad awal, para Bapa Gereja, juga Martin Luther, dan semua konsili para uskup. 

Panggilan untuk kembali mempercayai Sakramen Pengakuan Dosa 

Dengan semua bukti di atas, sungguh sangat sulit untuk menyangkal bahwa Yesus sendiri yang menginstitusikan Sakramen Pengakuan Dosa. Kalau Yesus yang menginginkan agar Sakramen ini dapat dipergunakan untuk membantu umat-Nya menjadi kudus, maka sebagai umat-Nya, kita hanya dapat mensyukuri dan berterimakasih atas berkat yang begitu ajaib. Kalau kita pikir, malaikatpun tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, namun Yesus sudah memberikan kuasa-Nya kepada Gereja yang dilaksanakan oleh para imam untuk mengampuni dosa, demi maksud pengudusan umat Allah. 

Sebagai umat Katolik, kita harus mensyukuri berkat yang begitu indah ini. Dan kita dipanggil bukan hanya untuk mensyukuri, namun juga menggunakan Sakramen Pengakuan Dosa untuk membantu kita hidup kudus. 

Dalam tulisan "Mengenal Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 3)", kita akan melihat dan menelaah apakah sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Sakramen Pengakuan Dosa.

 

Bersambung Mengenal Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 3) 

 

[6] Dalam salah satu bagian dari “Book of Concord” yang menjadi pegangan bagi para pengikut Martin Luther, disebutkan apa itu pengakuan dosa, cara dan prosesnya, yang dapat diakses di

http://www.bookofconcord.org/smallcatechism.html#confession.

[7] Martin Luther, Sermon of 16 March 1522; LW, Vol. 51, 97-98

[8] Kita bisa melihat dari beberapa dokumen dari St. Ignasius dari Antiokia (+ 107) mengatakan bahwa Tuhan mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada persatuan dengan Tuhan dan kepada persatuan dengan para uskup. (Philad. 8, I; cf. 3,2). Dan St. Cyprian (+ 258) mengemukakan bahwa Gereja Katolik mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27).

[9] Konsili Trente, Session XIV, Doctrine on the Sacrament of Penance, 893a-898. Paragraf 896 menjelaskan tentang “matter” dari sakramen ini, yang terdiri dari: contrition, confession, satisfaction. Dan kemudian “form” dari sacramen ini adalah kata-kata absolusi atau pengampunan dari Pastor.

[10] KGK, 1422-1498

[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan merubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.