HIDUP ST. TERESIA LISIEUX DALAM BUKU
"TANGAN KOSONG TERESIA DARI LISIEUX"
Pengantar
Salah satu tokoh spiritual terkemuka adalah St. Teresia dari Lisieux. Ia lahir pada 2 Januari 1873 di Alencon Prancis dan merupakan anak kesembilan. Ibunya meninggal ketika ia berusia empat tahun. Kepergian ibunya ini membuat hidupnya penuh kesedihan. Ia menjadi perasa, suka menyendiri dan jiwanya selalu dalam keadaan tegang. Butuh hampir sepuluh tahun untuk bisa meninggalkan kepedihan tersebut. Akhirnya pada usia 15 tahun, ia memilih masuk biara karmel guna menyerahkan seluruh hidupnya pada Yesus yang baginya merupakan sumber cinta. Namun ketika beberapa saat mulai hidup di biara, ayahnya mengalami gangguan jiwa. Ia menjadi sedih dan berusaha menemukan kehendak Allah.
Ketika awal masuk biara, Teresia berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah. Ia ingin menyelami seluruh rahasia ilahi dalam hidupnya. Ia selalu menyebut Allah sebagai Cinta, Maharahim, Pengantin, dan masih banyak lagi. Ia berpikir bahwa usaha untuk mengenal Allah ialah dengan mencari-Nya. Namun ketika menjelang masa akhir hidup, Teresia menyadari bahwa sebenarnya bukan ia yang mencari Allah melainkan Allahlah yang mendatangi dia, karena Allah adalah maharahim dan berbelaskasih. Ia meninggal pada 1897 setelah setahun menderita penyakit yang diawali dengan muntah darah pada masa Paskah tahun 1896
Berbagai ajaran yang
dihayati oleh Teresia dapat ditelusuri dari berbagai tulisannya dan juga
pengakuan serta kesaksian dari orang-orang terdekat ketika hidup di biara,
salah satunya dari Agnes, saudarinya yang menjadi pemimpin biara karmel tempat
ia tinggal hingga menghembuskan nafas terakhir. Agnes adalah ibu kedua setelah
kepergian ibu kandung mereka serta akhirnya menjadi saudari dalam percakapan
tentang penemuan Allah dalam kehidupan.
1.
Merebut
Cinta
Perubahan besar terjadi
pada Natal 1886. Ia berubah menjadi pribadi yang tenang dan mencintai Allah. Ia
sudah tidak terombang ambing oleh perasaannya. Pada usia empat belas tahun, ia
sudah bisa menemukan makna hidup yang luar biasa, “mencari nilai yang mutlak”.
Keinginan ini terus menjiwai seluruh perjalanan hidupnya nanti. Ia merasa bahwa
hidupnya disapa oleh Allah yang pada dasarnya hadir di dunia ini. Ia menyadari
bahwa pencaharian akan Allah bukanlah karena usaha pribadinya melainkan karena
Ia mencintainya. Pada 1887 tepatnya bulan Juni, ia mendapatkan buku karangan
Arminjon. Ia sangat tertarik untuk membacanya karena sangat berkesan.
Suatu hari Minggu di
tahun 1887, ketika ia memandang gambar Jalan Salib, ia melihat penderitaan
Yesus dan seperti berkata “Aku haus”. Pengalaman inilah yang menjadi
bahan kontemplasi Teresia. Ia merasa bahwa Yesus memanggilnya untuk membantu
menguduskan dunia. Sejak saat itu, panggilannya mulai bertumbuh dengan penuh
semangat. Ia merasa bahwa di biara ia akan bisa membantu sesama dan memfokuskan
diri pada perjumpaan dengan Sang Cinta, Pengantinnya.
Teresia meyakini bahwa
biara Carmel merupakan padang gurun di mana Allah mau menyembunyikannya dan
Teresia ingin pergi ke sana “hanya demi Yesus” (Meester: 1984, 22). Di biara,
ia terlepas dari ikatan baeang mewah. Baginya, semuanya itu tidak lebih
berharga daripada cinta. Teresia melihat bahwa segala macam percobaan
lahir-batin merupakan kebahagiaan tak terhingga bila dibandingkan dengan
menikmati segala barang dan suasana yang menyenangkan di lingkungan keluarga.
Ketika masuk biara, ia
melihat pasir sebagai lambang dirinya. Pasir itu kecil dan tidak terlihat.
Pasir adalah lambang kemiskinan, kehinaan dan apa yang tidak menyolok. Ia
hendak menjadi pasir agar tersembunyi bagi banyak orang dan hanya bisa dilihat
oleh Yesus. Ia memilih melakukan berbagai hal yang dianggap rendah, kecil dan
tak kelihatan.[3] Pada masa awal ini, ia selalu merasa
bahwa ia akan berusaha memberikan segala-galanya kepada Allah. Ia belum
berefleksi secara mendalam bahwa ternyata Allahlah yang sebenarnya memberikan
segalanya bagi dia. Ketika berada dua tahun di biara, ia mulai merefleksikan
bahwa “meski kita bukan apa-apa, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus itu
segala-galanya. Kita harus melenyapkan kehampaan kita dalam Dia, kepenuhan yang
tak terhingga…”.
2.
Mengatasi
Krisis
Lembah
sengsara merupakan sebutan Teresia untuk rumah barunya, biara karmel. Ia datang
ke biara itu pada 9 April 1888. Di sana ia disambut dengan ramah oleh anggota
komunitas. Namun di balik penyambutan itu, ia menyadari bahwa ‘sengsara’ juga
sedang menyambutnya. Baginya, hidup harus melewati sengsara. Sengsaralah yang
memurnikan dirinya. Ia harus bergaul dengannya. Sengsara terbesar bukan ketika
penderitaan dilihat oleh orang lain, melainkan ketika dirasakannya sendiri.
Sebagai novis, ia tidak dituntut untuk terlalu menderita, namun ia mau
menjalani semuanya itu. beberapa hal yang dilakukannya ialah: matiraga dalam
hal makan, tidur, memanaskan diri, kondisi kamar dan menyepikan diri. Teresia
sendiri pernah mengungkapkan bahwa ia lebih memilih bersahabat dengan dingin
malam daripada harus membungkus dirinya dengan selimut kenyamanan.
Selain
sengsara fisik tersebut, ia juga menyadari bahwa penderitaan datang dari sesama
anggota komunitas. Rekan novis kurang berlaku baik terhadapnya. Pemimpin biara
Marie de Gonzague pun demikian. Terkadang ia baik namun terkadang pula tidak.
Ia mudah marah dan muram ketika berhadapan dengan Teresia. Ketika mengolahnya,
Teresia hanya berkata bahwa ia menikmati dan belajar dari sifat pemimpin
tersebut. Baginya, dengan sifat yang seperti itu, Teresia belajar bagaimana
harusnya hidup. Seandainya ia menjadi suster kesayangan di biara, ia tidak tahu
apa yang akan terjadi. Ia pasti memiliki kepribadian dan pola hidup yang tidak
sempurna nantinya. Sengsara juga dilihat dari hubungannya dengan Agnes dan
Marie saudari kandungnya. Walaupun sama-sama hidup di biara, ia tidak mau
membawa hubungan kekeluargaan dalam biara. Ia mau menyangkal semua itu karena
ia ke biara murni untuk bergaul dengan Allah. Berbagai penderitaan yang
dialaminya ini, membuatnya terkadang merasa bahwa tidak ada Surga. Penderitaan
yang dialaminya setiap hari membuatnya kecewa. Ia juga sempat berpikir bahwa ia
sebenarnya dipanggil bukan untuk hidup di biara.
Tujuan
Teresia masuk biara ialah agar bisa semakin dekat dengan Allah. Namun demikian,
tujuan tersebut tidak berjalan mudah. Ada dua peristiwa yang membuat kehidupan
rohaninya kacau. Pertama, ketika ia masuk biara beberapa saat, ayahnya menjadi
gila. Ia teramat merasa tertekan. Ayahnya sakit jiwa selama lima tahun. Ia berusaha
mengolahnya agar kekudusan yang dikejarnya tidak terganggu. Ia selalu
memikirkan hal tersebut ketika berdoa. Karena pikiran yang terbagi ini, ia
tidak bisa melakukannya secara maksimal. Butuh waktu dua setengah tahun untuk
mengolahnya sampai ia bisa menerima kenyataan dan memasrahkan semuanya pada
Allah.
Bukan
saja karena kondisi kesehatan Martin, ayahnya, hal yang menghambat pencaharian
kekudusan adalah penurunan semangat doa. Sebelum masuk biara, ia dapat berdoa
dengan giat. Hal ini tidak terjadi pada awal ia masuk biara. Doanya selalu
tidak terkonsentrasi. Bahkan ia mengatakan bahwa ia lebih banyak tertidur
ketika berdoa. Ia berusaha untuk mengatasi kelemahan ini. Ia yakin bahwa Allah
menghendaki semuanya ini agar ia bisa selalu berjuang dalam berdoa dan
memfokuskan diri dan pikirannya.
Teresia
ingin menjadi kudus. Sejak awal masuk biara, ia selalu memegang prinsip bahwa
ia “tidak sempurna” dan berusaha untuk menjadi sempurna, bukan karena
kekuatannya sendiri melainkan karena memasrahkan semua yang ada padanya pada
Allah yang disebut sebagai Kekasihnya. Ia menyadari bahwa ia selalu rapuh dan
berdosa. Baginya, untuk menjadi sempurna, orang harus mengakui keterbatasan
serta memohon bimbingan Allah. Ia berefleksi bahwa Yesus untuk menebus manusia
jatuh tiga kali. Untuk itu, ia sendiri mengatakan bahwa ia harus jatuh seratus
kali untuk mencapai kekudusan tersebut.
Kesadaran
akan keterbatasan dan kedosaan manusia merupakan kunci kekudusan.
Keterbatasan/kesengsaraan adalah tanda bukti kasih Allah. Ia menghendaki kita
sengsara agar kita semakin menyadari betapa kita membutuhkan Allah sebagai
penghibur dan pembebas kesengsaraan itu. Untuk sampai pada tahap mencintai
Allah, manusia harus menderita. Penderitaan adalah jalan untuk mencintai Allah.
Teresia
sangat memperhatikan seluruh segi hidupnya, termasuk hal-hal kecil yang
dianggap sepele. Ia berjuang untuk terus menjadi sempurna dalam hal-hal kecil tersebut. Ia sepertinya memiliki rasa bersalah
yang tinggi bila melakukan kesalahan (sekurpel) untuk itu, ia terus berjuang
mencapai kesempurnaan. Baginya, tidak ada kata mustahil. Yang ada hanyalah
terus berjuang bersama Allah. Perjuangan seperti itu tentu tidaklah mudah
karena membutuhkan pengorbanan. Semua yang dilakukan hanya demi mencapai Cinta
yang diimpikan tersebut. Cinta dan penderitaan bertumbuh bersama. Ia memakai
frasa ‘tusukan jarum’ untuk melihat seluruh penderitaannya. Kekudusan ditemukan
dalam seluruh penderitaan. Untuk itu, kekudusan ditemukan dari dalam diri
karena dirilah yang menderita.
Dalam
perjalanan spiritualitas Teresia, terjadi perubahan yang sangat mendalam.
Ketika awal masuk biara, ia menyadari bahwa pencaharian kekudusan diperolehnya
karena dorongan penderitaan dan kesusahan. Berbagai pengalaman pahit dalam
hidup merupakan pendorong baginya untuk setia mencari Allah. Hal tersebut
berbalik pada tahun 1887 ke atas. Pada titik ini, ia telah menyadari bahwa
pencaharian kekudusan bukanlah semata karena berbagai pengalaman pahit hidup.
Ia mencari Allah karena Allah mencintainya. Bukan Teresia yang mencari Allah
melainkan Allahlah yang menganugerahkan kekudusan itu sendiri. Bila dahulu ia
mencari Allah karena pengalaman hidup, sekarang ia menyadari bahwa ia mendekati
kekudusan karena perasaan suka cita yang ada padanya.
Tiga
hal yang menjadi perubahan dalam diri Teresia adalah:
a. ada awalnya penyerahan bersumber pada kesulitan dan pencobaan. Akhirnya, penyerahan bersumber pada pandangan baru mengenai Allah yang maharahim
b. Pada awalnya penyerahan masih diliputi perasaan susah. Pada akhirnya, penyerahan justru menjadi sumber sukacita
c. Pada
awalnya, penyerajan masih terbatas pada menerima berbagai kesulitan konkret
yang dihadapi. Pada akhirnya, penyerahan itu mewarnai dan mendukung seluruh
hidupnya.
Semula Teresia berusaha untuk menjadi kecil, kudus dan
maju. Namun lambat laun ia sadar bahwa semuanya tidak berarti. Yang terpenting
baginya adalah memasrahkan semuanya pada Allah. Biarlah Allah yang
menggerakannya. Bila dahulu ia lebih banyak berdoa dan meminta, sekarang ia
lebih mendengarkan Allah. Inilah perubahan berarti yang ia temukan sendiri. Ia
berujar bahwa “cinta yang turun dari atas ke bawah, yang mencari yang
kecil justru karena kecil, agar dapat melimpahinya dengan anugerah-anugerah-Nya”.
Ia mau menjadi kecil di hadapan Allah dan membiarkan Allah yang mengatur
seluruh hidupnya.
Sekitar tahun 1894, Celine juga masuk biara di Lisieux. Ia membawa catatan Perjanjian Lama. Teresia yang
sangat gemar Kitab Suci itu lalu meminta buku tersebut. Di sinilah ia menemukan
jalan kecilnya, menemukan artinya dari keterangan Kitab Suci.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai
istilah jalan kecil Teresia ini:
a. Keinginannya untuk menjadi orang kudus. Ia memperolehnya melalui jalan kecil. Jalan kecil bukanlah tujuannya melainkan alat, sarana dan tahapan untuk sampai pada tujuan tersebut.
b. Ia
memiliki ketidakmampuan dan keputusasaan. Namun dari peristiwa Yakub, ia
belajar bahwa keputusasaan harus diletakan pada kehendak Allah.
c. Rasa pasti dalam hatinya. Biarpun ia merasa kecil, ia tidak boleh menyerah. “Allah tidak mengilhamkan keinginan-keinginan yang mustahil, jadi saya tetap boleh merindukan kekudusan meskipun saya begitu kecil”.
d. Mencari pemecahan. Ia memiliki tuntutan tinggi dalam cita-cita kekudusan namun di sisi lain ia menyadari kelemahannya. Untuk itu, ia mencari pemecahan. Lewat jalan kecil, ia membayangkannya sebagai sebuah “pesawat pengangkat”. Alat ini disebutnya sebagai Tangan Yesus sendiri yang dapat membawanya pada cita-cita kekudusan.
e. Jawaban
yang membebaskan. Hal ini ia temukan dalam Amsal 9:4, ‘jikalau
seorang amat kecil, hendaklah ia datang kepadaku’. Kekecilannya
harus diserahkan pada Allah karena ‘sebagaimana seorang ibu membelai
anaknya, Aku akan menggendong dan membelai-belai kamu di pangkuan-Ku (Yes
66:12-13).
3.
Allah
Menguasai Manusia
Pada
1895 Teresia telah menemukan jawaban akan pencahariannya. Tuhan itu maharahim!
Semuanya didasarkan pada Roma 9: 15-16 yang berbunyi, ‘Allah mengasihi siapa
yang Ia kehendaki dan menunjukkan kerahiman-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki.
Jadi itu tidak bergantung pada kemauan atau usaha manusia, melainkan pada
belaskasih Allah’. Teresia menyadari bahwa pencahariannya selama ini bukan
karena usahanya melainkan karena belaskasih Allah. Belaskasih Allahlah yang
membuatnya menjadi kudus. Baginya, cinta itu tidak “menundukkan diri”. Untuk
mencapai relasi yang seimbang, kedua pihak harus dihargai. Hal itu ia ambil
dari inspirasi misteri Trinitas. Cinta ketiga pribadi adalah sederajat. Untuk
itu, yang besar akan selalu mengulurkan tangan pada yang kecil sehingga mereka
saling mengasihi.
Cinta
Allah begitu besar bagi manusia. Manusia hanya perlu mengambil jarak untuk
melihat terang ilahi dalam segala keseharian yang serba biasa dan malahan yang
menyedihkan. Ketika melihat masa lampaunya, Teresia sampai pada kesimpulan
bahwa semua yang dialaminya adalah anugrah yang diberikan Allah dengan
cuma-cuma, ‘tanpa ada jasa sedikitpun dari pihaknya sendiri’. Untuk itu,
Teresia menyerahkan seluruh hidupnya pada kontemplasi demi kemuliaan dan cinta
Allah.
Ia
melihat panggilannya sebagai kerahiman Allah. Pengalaman masa natal yang telah
mengubahnya merupakan hal luar biasa yang direfleksikan. Allah dalam sekejap
telah merubah hidup dan pandangannya. Ia merefleksikan berdasarkan pengalaman
Maria Magdalena yang dibebaskan Yesus dari dosa. Bagi Teresia, ‘barangsiapa
yang diampuni sedikit, mencintai sedikit’. Ia telah banyak diampuni dan untuk
itu pula ia harus banyak mencintai. Allah yang telah menampung segala dosanya
dalam kerahiman-Nya. Tahun 1895 menjadi tahun kerahiman baginya.
Ia
merasakan pelukan Allah yang sungguh setelah merayakan Ekakristi. Ia menyatakan
keagungan Allah dan menyadari hidup dan pemberian Allah. Sebenarnya, bukan ia
yang telah mencari Allah melainkan Cinta itu yang datang menyapanya. Akhirnya
ia berkesimpulan bahwa ia pun harus menderita seperti Kekasihnya Kristus demi
keselamatan banyak orang.
Kesadaran
akan anugrah dari Allah membuat Teresia sadar akan kerahiman Allah. Namun
demikian, dalam kematangan rohaninya ini, ia menyadari bahwa di dunia ini
terdapat juga orang ateis. Untuk itu, ia bersyukur atas anugerah yang diberikan
padanya. Allah sangat murah hati karena memberikannya kesempatan untuk
mencintai Dia.
Ketika
berusia 24 tahun, sebelum meninggal, dalam tidurnya ia selalu memikirkan,
‘apakah hanya sebatas ini sajakah jalan kecilnya? Ia tetap berusaha untuk
menemukan jalan kecil yang dikehendaki Allah. Ia ingin mengikuti Allah secara
total. Ia tidak suka dipandang sebagai orang besar. Kekecilan yang dihayati
tetap menimbulkan gelora kerinduan. Kekecilannya tidak menjadikannya pasif. Ia
terus berjuang dengan kerendahan hati dan berbagai peristiwa yang kelihatan
serba biasa.
Teresia
melihat Allah sebagai bapa yang baik, berdasarkan pengalaman di dalam keluarga.
Namun demikian, ia tetap menghormati Kristus yang disebut sebagai mempelainya.
Pengalaman penderitaan yang pernah dialaminya telah menghantarnya pada kekudusan
dan membuatnya dapat membagikan ajarannya sendiri. Sejak 1896 ia diminta untuk
mengajar, menasehati dan membimbing para novis. Iapun berkorespondensi dengan
seorang misionaris (Roulland) serta seorang di seminari tinggi (Belliere). Ia
membantu mendoakan dan memberi mereka berbagai nasehat saleh yang berguna.
4.
Jembatan
dengan Harapan
Walaupun
terkenal saleh dan teliti, mendekati ajalnya, Teresia selalu menyebut dirinya
lemah dan tidak sempurna. Ia mengatakan bahwa semua orang tidak mengenal isi
hatinya selain Allah. Ia selalu mendekati Allah dan melatih suara hatinya. Ia
selalu mengagungkan kemuliaan Allah. Ia tetap menyadari dirinya lemah karena
masih memberikan berbagai kemungkinan untuk tidak dekat dengan Allah. Ia
menyatakan bahwa ‘tak seorangpun bebas dari kesalahan dalam hidupnya’
sebab ‘orang benar tergelincir tujuh kali sehari’ (Ams. 24:16).
Teresia
mengakui Allah sebagai sumber cinta. Sehebat apapun manusia menggapai cinta
itu, Cinta tersebut masih jauh dari diri manusia. Untuk itu, Teresia hanya
berjuang untuk mendekatinya dengan membagikan cinta yang baginya hanya sebagian
kecil dari Cinta Allah. Kesadaran pada cinta manusia yang kecil itu mendorong
Teresia untuk mengatakan bahwa manusia membutuhkan pengharapan agar Allah
memberikan pertumbuhan dan kesuburan cinta manusia.
Seperti
sudah dijelaskan sebelumnya, kerahiman Allah adalah dasar Teresia hidup dan
bertindak. Ia sangat gemar membaca Kitab Suci. Dan baginya, buku tersebut
sebetulnya mau menunjukkan Allah yang Maharahim tersebut. Ia selalu berdoa
seperti pemungut cukai yang bertobat. Ia selalu ingat pesan Yesus, ‘Aku
datang bukan untuk memanggil orang yang benar melainkan orang-orang berdosa’
(Mat 9:12-13). Dalam berefleksi tentang kerahiman Allah,
Teresia dapat digambarkan
dengan tiga lambing, yaitu:
Angkasa tak terbatas
Seperti angkasa yang tak
terbatas dan tak terpahami, demikianlah cinta Allah. Sehebat apapun manusia
berusaha untuk menyelaminya, semakin manusia harus berusaha keras lagi. Cinta
yang tak terbatas dari Allah hanya bisa didekati dengan penuh harapan tanpa
akan pernah mencapai kepenuhannya.
Puncak demi puncak
Pencaharian cinta Allah
ibarat pendakian untuk menemukan puncak demi puncak. Ketika sudah menemukan
satu puncak, kita akan melihat puncak yang lain lagi dan lagi. Allah adalah
puncak yang tidak bisa digapai. Perjuangan manusia pun demikian. Manusia adalah
gambaran dan Allah adalah wujudu aslinya. Gambaran tidak akan pernah menyamai
ataupun begitu dekat dengan Aslinya. Di sini, Teresia telah membawa pemahaman
akan ketiga keutamaan teologis yakni iman, harap dan kasih. Cinta telah
membawanya pada pengharapan yang kokoh. Walaupun tidak akan pernah menemukan
cinta tersebut secara sempurna, harapan yang dimilikinya terus menghantar dia
untuk beriman dan mencintai Sang Cinta tersebut.
Jembatan
Teresia menyebut bahwa
ada jarak antara Allah dan manusia. Untuk itu, perlu jembatan guna
menghubungkannya. Untuk membangun jembatan tersebut, butuh waktu dan bertahap.
Memang ada Allah Sang Cinta yang akan membantu, tetapi manusia harus menyiapkan
berbagai perlengkapan seperti harapan yang teguh dan kerendahan hati.
Bila dari semua pemikiran
Teresia, sepintas bisa kita simpulkan bahwa ia lebih banyak pasif dan berharap
pada kemurahan Allah dan melupakan aksi. Namun demikian, Teresia sendiri
menegaskan dengan kalimat yang indah: “bekerja seakan-akan segala-galanya
tergantung pada kita, tetapi sekaligus berharap seakan-akan segala-galanya
hanya tergantung pada Allah belaka”. Di sini, Teresia mengimani bahwa usaha
pribadi tidak akan mampu mendekati Cinta. Perlu adanya cinta yang total serta
kebesaran Cinta untuk datang menyapa. Perjuangan untuk mencintai itu tidak akan
pernah habis-habisnya dalam kehidupan manusia.
Teresia secara setia
meneladani kekhasan St. Paulus. Baginya, orang Farisi dan ahli Taurat lebih
mementingkan Taurat dan berjuang dengan gigih untuk menjalankan ajarannya.
Namun demikian, mereka melupakan hal yang paling inti. Kesempurnaan bukan
dicari melulu karena usaha manusia dan juga dari kepintarannya. Belajar dari
Paulus, Teresia meyakini bahwa kedatangan rahmat Allah dalam diri manusia
adalah yang terpenting. Yesus ketika hidup pun berlaku demikian. Ia merombak
pandangan tentang ketaatan buta pada hukum Taurat. Taurat sebenarnya haruslah
menghantar orang pada kesadaran akan peran Allah yang memberi rahmat dan
bukannya sebaliknya, melihat usaha untuk mengerti dan mematuhi hukum sebagai
kemampuan manusia semata untuk mendekati Allah.
Teresia boleh dikatakan
sebagai manusia yang bahagia karena pengharapan. Pengharapan tersebut
membawanya pada kebahagiaan akan kepemilikan segala sesuatu di dalam Kristus. “Segala-galanya
adalah milik kita, segala-galanya diperuntukkan bagi kita, sebab di dalam Yesus
kita mempunyai segalanya” (Meester: 1984, 137). Karena kesadaran seperti
ini, segala duka, penderitaan jasmani dan kesengsaraan iman selalu ia nikmati
dengan damai, sukacita serta kebahagiaan. Karena terikat pada Allah, ia merasa
bebas dan lepas dari segala hal lainnya. Pengharapan yang sungguh akan cinta
telah membuatnya berbahagia.
5.
Aku
Memasuki Kehidupan
Teresia menyebut
kehidupan sebagai harta berharga. Setiap saat adalah rahmat. Ia tidak pernah
meminta untuk hidup dalam waktu yang singkat karena hal tersebut baginya
merupakan sebuah ketakutan untuk melarikan diri.[5] Kehidupan harus dimanfaatkan sebaik
mungkin setiap saat. Prinsipnya bahwa “mencintai Yesus dengan seluruh daya
kekuatan cinta kita dan mencari orang bagi Dia, agar mereka pun mencintai Dia”
(Meester: 1984, 142).
Pada akhir masa hidupnya,
ia lebih secara mendalam menyadari bahwa cinta yang dia cari serta Cinta yang
datang menghampirinya tersebut harus pula dibagikan kepada orang lain, dalam
hal ini komunitasnya. “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah
pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34). Dan yang lebih penting lagi,
bahwa Teresia menyadari akan keterbatasan cintanya. Bila ia berbuat baik, ia
sadar bahwa hal tersebut bukanlah karena prestasi pribadinya, melainkan karena
dorongan Sang Cinta sendiri.
Pada sore hari sebelum
meninggal, Teresia mengucapkan kata-kata ini, “Pada malam hidup ini
saya akan datang di hadapan-Mu dengan tangan kosong. Dengan tangan kosong.
Terbuka lebar untuk Allah. Bila saya akan datang ke hadapan mempelaiku yang
terkasih, saya hanya dapat mempersembahkan kepada-Nya segala kerinduan saya”.
Dan inilah perkataan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir pada jam
tujuh malam lewat beberapa menit, tanggal 30 September 1897, “Ya Allahku,
saya mencintai Engkau!”.
Kepustakaan:
GUITTON,
Jean. The Spiritual Genius of Saint Therese of Lisieux. New York:
Burns & Oates. 1997.
LISIEUX,
Teresia. Pesan Terakhir Teresia Lisieux, Menuju Hidup Baru (terj.). Yogyakarta: Kanisius. 1985.
NEVIN,
Thomas, R. Therese of Lisieux: God’s Gentle Warrior. New York:
Oxford University Press. 2006.
MEESTER,
Koen de, OCD. Tangan Kosong Teresia dari Lisieux (terj.). Yogyakarta: Kanisius. 1984.
[1]Selain permasalahan eksternal tersebut, menurut cerita orang pada waktu itu, Teresia lahir dengan keadaan yang ‘menyedihkan’. Ia diberi ASI secara kurang sempurna karena kesehatan ibunya yang tidak mendukung. Di samping itu, dua bulan setelah kelahirannya, ia mengalami gangguan serius pada ususnya. Hal tersebut membuat kesehatannya kurang baik (Nevin: 2006, 252).
[2]I had noticed that, very early on, Thérèse had read a work entitled The End of the World by a writer unknown to me (and, it seemed, to anyone else) called Fr Arminjon. The full title is The End of the Present World and the Mysteries of the Future Life it was published in 1881. At he time I made a mental note to track down this odd-sounding book one day and to try to discover who Arminjon exactly was (lih. Guitton: 1997, 91).
[3]Teladan hidup yang berusaha dihayati ini menjadikan Teresia selalu mencintai jalan Yesus sang Pengantinnya. Ia bahkan disebut sebagai supreme imitatio Christi (Nevin: 2006, 163).
[4]Inilah kelebihan Teresia. Ia digelari kudus dengan predikat seorang teolog bukan karena kepintaran dalam dunia akademis, melainkan karena pengalaman pribadi yang dihayati dan dibagikan kepada orang lain (Nevin: 2006, 288).
[5]Diketahui bahwa Teresia menderita penyakit Tuberkolosis. Penderitaan yang dialami tersebut dilihatnya sebagai penyerahan total pada penderitaan Allah. Ia menaruh makna lebih pada penderitaannya tersebut (bdk. Ibid., 149-151).
