-->

Refleksi 118 : Hati yang Keras Kepala

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 118 : Hati yang Keras Kepala 

Salah satu cara utama kita menghentikan Rahmat Tuhan masuk ke dalam hidup kita adalah melalui sikap keras kepala. Secara khusus, ketika kita dengan keras berpegang pada pendapat kita sendiri, sebagai akibat dari kesombongan kita, dan karena itu gagal untuk terbuka terhadap kebenaran, kita menutup pintu rahmat. Ini adalah dosa yang sangat berbahaya karena ketegaran, menurut definisinya, menyiratkan adanya keengganan untuk bertobat dan berubah. Orang yang keras kepala tetap, hari demi hari, tahun demi tahun, tertutup bagi kasih karunia Allah. 

Satu-satunya obat untuk hati yang keras kepala adalah kerendahan hati di hadapan Kebenaran Tuhan. Datang kepada Tuhan, dengan hati terbuka yang tulus, siap dan bersedia untuk mengubah keyakinan kita saat Dia berbicara, adalah langkah pertama untuk terbebas dari dosa ini. 

Rendahkan diri anda dengan mendengarkan, mengesampingkan pendapat tegas anda sendiri, bersikap terbuka dan bersedia untuk berubah. Ini mungkin sulit pada awalnya, tetapi anda akan benar-benar bersyukur anda melakukannya (Lihat Buku Harian #560). 

Buku Harian Santa Faustina 

(560) Kamis. 

Aku merasa terdorong untuk secepat mungkin bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sementara melakukan pengakuan dosa, aku mempertahankan pendapatku sendiri atas pendapat bapak pengakuan. Mula-mula, aku tidak menyadari hal ini, tetapi ketika aku melaksanakan Jam Kudus, aku melihat Tuhan Yesus sebagaimana Ia menampakkan diri dalam Gambar [Kerahiman Ilahi] itu. Ia memberitahukan kepadaku bahwa aku harus mengulangi kepada bapak pengakuan dan superiorku segala sesuatu yang Ia katakan kepadaku atau Ia minta dariku 

“.... dan  lakukanlah hanya apa yang diizinkan untuk engkau lakukan.” 

Dan, Tuhan Yesus membuatku memahami betapa kecewa Ia dengan orang-orang yang memaksakan kehendak sendiri, dan aku sadar bahwa akulah salah satunya. Aku melihat bayangan kehendakku sendiri itu di dalam diriku, dan aku menghempaskan diri ke dalam debu di hadapan keagungan-Nya dan dengan hati yang remuk redam, aku memohon pengampunan-Nya. Tetapi, Yesus tidak membiarkan aku tetap dalam keadaan ini untuk waktu yang lama. Tatapan ilahi-Nya memenuhi hatiku dengan sukacita yang sedemikian besar sehingga aku tidak mempunyai kata-kata untuk mengungkapkannya. Dan, Yesus memberitahukan kepadaku agar aku menyampaikan lebih banyak pertanyaan kepada-Nya dan meminta nasihat-Nya. Sungguh, begitu manisnya tatapan Tuhanku; mata-Nya menembus jiwaku sampai ke relung-relungnya yang paling tersembunyi. Rohku berkomunikasi dengan Tuhan tanpa sepatah kata pun yang terucap. Aku sadar bahwa Ia tinggal di dalam aku dan aku di dalam Dia.  (BHSF #554) 

Renungan 

Apa yang anda keras kepala tentang sesuatu ?

Apakah ada pemikiran lama yang anda pegang terhadap yang lain? 

Apakah ada sesuatu yang anda yakini bahwa anda benar? 

Pastikan Tuhan juga merasakan hal yang sama. Carilah, hari ini, untuk terbuka terhadap perubahan. Langkah pertama adalah meminta Tuhan membuka mata anda untuk melihat. Langkah kedua adalah membiarkan diri anda melihat kecenderungan ini di dalam hati anda. 

 


Doa 

Tuhan, aku tahu aku keras kepala. Aku melihatnya di dalam jiwaku. Aku berpegang pada keinginanku dan menolak untuk mendengarkan orang lain karena kesombongan. Beri aku rahmat pikiran terbuka agar aku bisa melepaskan kekeraskepalaanku. Bantulah aku untuk merendahkan diri di hadapan-Mu dan orang lain dan bantulah aku untuk siap dan bersedia mendengarkan Kebenaran-Mu. Yesus, Engkau andalanku.