-->

Refleksi 119 : Mortifikasi Batiniah dan Lahiriah

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 119 : Mortifikasi Batiniah dan Lahiriah 

Mortifikasi adalah praktik menyangkal kehendak anda sehingga tumbuh dalam keterpisahan yang lebih besar dari hal-hal yang berlalu di dunia ini. Kita harus berusaha untuk melepaskan diri dari segala sesuatu kecuali Tuhan dan Kehendak-Nya yang kudus. Bukannya semua yang kita sukai atau inginkan itu buruk, tetapi jika kita menginginkan kekudusan sejati, keinginan kita akan Tuhan harus mengubah setiap keinginan lain dan mengarahkan semuanya. 

Mortifikasi batin terdiri dari cara-cara di mana kita menyangkal pikiran atau kehendak kita sendiri. Misalnya, mengucapkan kata yang baik ketika kita tidak menyukainya, atau menahan lidah ketika sulit untuk menahannya. 

Mortifikasi lahiriah terdiri dari praktik-praktik seperti berpuasa dari makanan yang kita sukai atau melepaskan sesuatu untuk Prapaskah dan sepanjang tahun. Latihan-latihan ini penting untuk kehidupan spiritual jika anda serius tentang hubungan anda dengan Tuhan (Lihat Buku Harian #565). 

Buku Harian Santa Faustina 

(565) Tobat dan Mati Raga. 

Mati raga batin menduduki tempat pertama, tetapi di samping ini, kita harus mengamalkan juga mati raga lahir, yang ditentukan secara ketat sehingga semua orang dapat melaksanakannya.

Mati raga dilaksanakan sebagai berikut: pada tiga hari dalam setiap pekan, yakni Rabu, Jumat dan Sabtu, akan dilaksanakan puasa yang ketat; setiap Jumat, semua suster - masing-masing di kamarnya sendiri akan mencambuk diri sambil mendaras secara lengkap Mazmur 51, dan semua harus melaksanakan pada saat yang sama, yakni pukul tiga; mati raga ini akan dipersembahkan untuk orang-orang berdoa yang menghadapi ajal. Dalam kedua puasa agung, hari-hari doa, dan vigili, makanan terdiri atas sepotong roti dan sedikit air, sekali sehari. 

Hendaknya setiap suster berusaha mematuhi mati raga - Mati raga yang ditentukan bagi semua suster ini. Tetapi, kalau ada yang ingin melakukan sesuatu yang lebih, hendaknya ia minta izin kepada superior. Satu lagi mati raga umum: tidak seorang suster pun diperbolehkan masuk kamar suster lain tanpa izin khusus dari superior, tetapi superior hendaknya kadang-kadang masuk secara tidak terduga ke kamar para suster, bukan untuk memata-matai, tetapi dalam semangat kasih dan tanggung jawab yang ia emban di hadapan Allah. Tidak seorang suster pun boleh mengunci pintu atau lemari; peraturan hendaknya menjadi kunci umum untuk semua. (BHSF #565) 

Renungan 

Apa yang paling anda lekatkan? 

Apa yang tampaknya paling mengendalikan anda dan mengarahkan keinginan anda? 

Ini bisa menjadi kecenderungan berdosa, atau bisa menjadi gairah untuk beberapa hobi alami. Mulailah dengan kecenderungan berdosa anda dan cari cara untuk mematikan keinginan anda sehingga menjadi cukup kuat untuk mengatasi dosa-dosa ini. Lihat juga hasrat dan kesukaan alami anda. Memilih untuk secara bebas mengorbankan ini, sampai batas tertentu, dari waktu ke waktu, adalah cara yang positif dan suci untuk bertumbuh dalam kekudusan. Carilah cara untuk melakukan ini dan Rahmat Tuhan akan mengalir lebih berlimpah. 

 


Doa 

Tuhan, aku ingin menginginkan-Mu saja dan di atas semua keinginan lainnya. Sucikan aku dan bebaskan aku dari banyak keterikatan dalam hidup ini. Bantulah aku untuk memiliki keberanian untuk melakukan pengorbanan setiap hari kepada-Mu agar pikiran dan kemauanku lebih siap untuk menerima Kerahiman-Mu. Yesus, Engkau andalanku.


Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi