-->

Refleksi 138 : Rahmat Tuhan Tak Terbatas

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 138 : Rahmat Tuhan Tak Terbatas

 

Mungkin tidak mengherankan jika kita mendengar bahwa Kerahiman Allah tidak terbatas. Tapi "tak terhingga" adalah konsep yang cukup untuk dipahami. Bahkan, beberapa orang akan berpendapat bahwa itu tidak mungkin untuk dipahami. Menggali sesuatu yang tidak terbatas dan tidak memiliki batas adalah di luar apa yang bisa kita pahami.

 

Begitu pula dengan Rahmat Allah. Menjadi tak terbatas, kita harus menyadari bahwa kita akan menghabiskan keabadian, keberadaan tak terbatas, mencari dan menerima Rahmat ini yang tidak akan pernah berakhir. Saat ini, di Bumi, pengalaman kita tentang Rahmat Tuhan yang tak terbatas sangat terbatas. Seolah-olah kita dapat mengambil bidal penuh sementara lautan tak berujung menunggu (Lihat Buku Harian #687 & 692). 

Buku Harian Santa Faustina 

(687) Pernah, ketika aku melewati lorong menuju ke dapur, aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, 

“Daraskanlah tanpa henti Koronka yang telah Kuajarkan kepadamu. Barangsiapa mendarasnya akan menerima kerahiman yang besar pada saat kematiannya. 

Hendaklah para imam menganjurkan doa ini kepada para pendosa sebagai harapan terakhir untuk beroleh keselamatan. 

Bahkan kalau ada seorang pendosa yang sangat keras hatinya, asalkan ia mau mendaras Koronka ini satu kali saja, ia akan menerima rahmat dari kerahiman-Ku yang tak terbatas. 

Aku ingin agar seluruh dunia mengenal kerahiman-Ku yang tak terbatas. Aku ingin memberikan rahmat yang tak terbayangkan kepada jiwa-jiwa yang berharap pada kerahiman-Ku.”  (BHSF #687) 

(692) O Yesus, aku tahu bahwa kerahiman-Mu melampaui segala pikiran, dan karena itu aku minta kepada-Mu untuk membuat hatiku menjadi sedemikian besar sehingga di sana akan ada ruang yang dibutuhkan oleh semua jiwa untuk hidup berhadapan dengan bumi. 

O Yesus, kasihku menjangkau melampaui dunia, kepada jiwa-jiwa yang menderita di Purgatorium, dan aku ingin memberikan kerahiman kepada mereka melalui doa-doa indulgensi. Kerahiman Allah itu tak terselami dan tak akan habis, sama seperti Allah sendiri tak terselami. Bahkan kalaupun aku menggunakan kata-kata yang paling kuat, untuk mengungkapkan kerahiman Allah ini, semua ini akan tidak ada artinya apa-apa dibandingkan dengan kenyataannya. 

O Yesus, jadikanlah hatiku peka terhadap segala penderitaan sesamaku, entah penderitaan tubuh entah penderitaan jiwa. 

O Yesusku, aku tahu bahwa Engkau bertindak terhadap kami sebagaimana kami bertindak terhadap sesama kami.

Yesusku, jadikanlah hatiku serupa dengan Hati-Mu yang maharahim! Ya Yesus, tolonglah aku menjalani seluruh hidup ini sambil berbuat baik kepada siapa saja! (BHSF #692) 

Renungan

 

Apakah anda pernah menghabiskan waktu untuk merenungkan ketidakterbatasan?

 

Pikirkan luar angkasa, yang tidak pernah berakhir, dan bagaimana bisa?

 

Apa yang akan ada di ujung lain dari ujung ruang?


Demikian pula dengan Rahmat Allah. Bagaimana itu bisa berakhir?

 

Bagaimana itu bisa habis?

 

Rahmat-Nya seluas dan seluas Tuhan itu sendiri. Renungkan esensi Tuhan, dan saat anda mengagumi sifat-Nya yang tak terbatas, biarkan diri anda ditarik ke dalam karunia Cinta-Nya yang tak berkesudahan. Karena ketika anda dapat mulai memahaminya, anda akan menginginkannya. Dan ketika anda menginginkannya, anda akan memulai perjalanan anda menuju ketakterhinggaan. 



Doa 

Tuhan, kasih-Mu untukku melampaui apa yang pernah aku bayangkan. Bantu aku untuk setidaknya memahami bahwa aku tidak akan pernah mengerti, sepenuhnya, kedalaman cinta-Mu. Bantulah aku untuk melihat bahwa Kerahiman-Mu tidak berkesudahan dan bantulah aku untuk memulai perjalananku menuju keabadian bersama-Mu. Yesus, Engkau andalanku.