-->

Refleksi 312: Sahabat Sejati dan Setia

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 312: Sahabat Sejati dan Setia 

Sulit untuk tetap berteman dengan orang yang menderita, terutama ketika penderitaan itu bertahan. Seringkali, pada awalnya, ketika jiwa menderita suatu penyakit atau kesulitan lain, banyak teman datang membantu. Namun seiring berjalannya waktu, semakin sedikit teman yang mempertahankan cinta dan dukungan mereka. 

Ini menawarkan ujian cinta dan belas kasihan mereka. Tapi ada satu Sahabat yang akan ada disana melewati itu semua. Ini adalah Tuhan Ilahi kita. Dia menanggung penderitaan terbesar dalam hidup dan, sebagai hasilnya, Dia tidak menghindar dari persahabatan yang masuk ke dalam hubungan penderitaan yang panjang. 

Kasih Yesus tetap teguh dan tak tergoyahkan. Kesaksian cinta yang sempurna ini juga harus mengilhami anda dalam cinta anda kepada orang lain. 

Ketika anda melihat seseorang menderita, dibutuhkan tekad yang kuat untuk tetap setia kepada mereka dan persahabatan anda dari waktu ke waktu. Tapi semakin lama penderitaan bertahan, semakin besar kesempatan untuk mencintai. Waktu memurnikan dan memperkuat cinta dan ketika anda menyadari penderitaan panjang orang lain, lihatlah itu sebagai salah satu kesempatan terbesar untuk mewujudkan cinta Tuhan kita yang tak tergoyahkan (Lihat Buku Harian #1508-1509). 

Buku Harian Santa Faustina 

(1508)  

21 Januari 1938.  

Ya Yesus, betapa mengerikan menanggung penderitaan kalau bukan demi Engkau. Namun, ya Yesus, Engkau yang terentang pada salib memberi aku kekuatan dan selalu dekat dengan jiwa yang menderita. Ciptaan-ciptaan akan meninggalkan orang yang menderita, tetapi Engkau, Tuhan, selalu setia .... (BHSF#1508) 

(1509)  

Sering terjadi, ketika orang sakit, seperti halnya dengan Ayub dalam Perjanjian Lama, sejauh ia masih dapat bergerak dan bekerja, segala sesuatu dianggap beres dan baik-baik saja; tetapi apabila Allah mengirimkan rasa sakit, ringan atau berat, hanya sedikit sahabat yang datang. Tetapi, bagaimana pun masih ada. Mereka masih peduli akan penderitaan kita. Tetapi, kalau Allah memberikan rasa sakit yang telah lama, ada beberapa sahabat setia yang pelan-pelan mulai meninggalkan kita. Mereka semakin jarang mengunjungi kita dan sering kali kunjungan mereka justru menimbulkan penderitaan. Mereka tidak menghibur kita, tetapi malah mencela kita karena hal-hal tertentu, dan hal itu justru memperparah penderitaan. Demikianlah jiwa itu, seperti Ayub, ditinggalkan sendirian; tetapi, untunglah, ia sungguh tidak sendirian sebab Yesus-dalam-Hosti selalu menyertainya.  

Sesudah mengecap penderitaan-penderitaan seperti di atas dan menjalani sepanjang malam dalam kepahitan, keesokan harinya, imam komunitas mengantar komuni kudus kepadaku. Ketika itu, aku harus mengendalikan diri dengan sekuat tenaga jangan sampai aku berteriak dengan sekuat suaraku.  

“Selamat datang Sahabatku yang sejati dan satu-satunya.”  

Komuni kudus memberi aku kekuatan untuk menderita dan bertempur.  

Aku ingin berbicara tentang satu hal lagi yang telah kualami: ketika Allah tidak memberikan kesehatan, tetapi tidak juga memberikan kematian, dan [ketika] hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, orang menjadi terbiasa dengan keadaan ini dan menganggap orang yang menderita itu tidak sakit. Maka mulailah seluruh rangkaian kemartiran batin. Hanya Allah yang tahu betapa beratnya penderitaan yang ditanggung oleh jiwa itu. (BHSF #1509) 

Renungan 

Renungkan orang-orang yang telah berbagi persahabatan dengan anda. 

Apakah ada orang dalam hidup anda yang telah memikul beban berat selama bertahun-tahun? 

Jika demikian, seberapa teguh anda tetap dalam dedikasi dan cinta anda kepada mereka? 

Mereka menawarkan anda kesempatan untuk mewujudkan kasih Tuhan kita yang tak berkesudahan. 

Renungkan betapa mudahnya mencintai orang lain ketika mereka populer, sehat, dan dipuji banyak orang. Dan kemudian renungkan kekuatan dan komitmen yang dibutuhkan untuk tetap tabah kepada mereka yang berada dalam kondisi sebaliknya. Perbarui cinta dan persahabatan anda dan anda akan mewujudkan Rahmat Tuhan yang agung. 

 


Doa 

Tuhan, jadikan aku sahabat sejati. Tolong aku untuk melihat penderitaan orang lain sebagai kesempatan untuk mengasihi dengan Hati-Mu. Semoga aku menjadi setia seperti Engkau, ya Tuhan. Aku mencintaimu. Bantu aku untuk mencintai seperti yang Engkau lakukan.  Yesus, Engkau andalanku.