-->

Refleksi 92 : Kreativitas dalam Doa

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 92 : Kreativitas dalam Doa 

Seringkali, hari-hari kita diisi dengan aktivitas. Keluarga sering sibuk dengan satu acara atau lainnya. Pekerjaan dan pekerjaan dapat menumpuk dan kita mungkin menemukan, pada akhirnya, bahwa kita hanya memiliki sedikit waktu untuk berdoa kepada Tuhan dalam kesendirian. Namun kesunyian dan doa dapat terjadi pada waktu-waktu tertentu sepanjang hari kita yang sibuk. Meskipun penting untuk mencari saat-saat ketika kita bisa sendirian dengan Tuhan, memberikan perhatian penuh kita kepada-Nya, kita juga harus mencari kesempatan untuk berdoa, secara batiniah, di tengah-tengah kehidupan kita yang sibuk (Lihat Buku Harian #401). 

Buku Harian Santa Faustina 

(401) Hari-hari di rumah penuh dengan ramah tamah karena setiap orang ingin melihat dan bercakap-cakap denganku seperlunya. Sering aku dapat menghitung sebanyak dua puluh lima orang berkumpul di sana. Dengan penuh perhatian, mereka mendengarkan cerita-ceritaku mengenai kehidupan orang-orang kudus. Aku merasa bahwa rumah kami sungguh menjadi rumah Allah karena setiap petang kami berbicara hanya mengenai Allah. Ketika letih karena percakapan ini dan ingin menyendiri dalam keheningan, diam-diam aku menyelonong ke kebun pada petang hari sehingga aku dapat berbicara hanya dengan Allah, meskipun dalam hal ini aku tidak berhasil; serta merta saudara dan saudariku datang dan mengajak aku masuk ke rumah dan, sekali lagi, aku harus berbicara, dengan semua mata menatap aku. Tetapi, aku tetap mencari satu cara untuk beristirahat; aku minta kepada saudara-saudaraku untuk melambungkan nyanyian bagiku karena mereka memiliki suara yang indah; dan di samping itu, satu orang memainkan biola dan yang lain memainkan mandolin. Dan selama waktu itu aku dapat membaktikan diriku kepada doa batin tanpa menghindari kehadiran mereka. 

Yang juga membuat aku sangat letih adalah bahwa aku harus mencium anak-anak. Ibu-ibu yang aku kenal datang dengan membawa anak-anak mereka dan memintaku memeluk mereka, sekurang-kurangnya sebentar, dan mencium mereka. Mereka memandang ini sebagai suatu berkat yang besar, dan bagiku ini adalah kesempatan untuk mengamalkan keutamaan karena banyak dari anak-anak itu agak kotor. Tetapi untuk mengatasi perasaanku dan agar aku tidak memperlihatkan kejijikan, aku mencium anak yang kotor dua kali. Salah seorang dari teman-teman ini datang dengan seorang anak yang matanya sakit dan penuh dengan nanah, dan ia berkata kepadaku, “Suster, gendonglah dia sebentar.” Naluriku berontak, tetapi tanpa memperhatikan apa pun, aku meraih anak itu, menciumnya dua kali tepat pada lukanya sambil memohon kepada Allah untuk meringankan penderitaannya. 

Aku memiliki banyak kesempatan untuk mengamalkan keutamaan. Aku mendengarkan orang mencurahkan keluh kesah mereka, dan aku menyaksikan tidak ada hati yang tampak bersukacita karena di antara mereka tidak ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah; dan hal ini sama sekali tidak mengherankan bagiku. Aku sangat menyesal tidak berjumpa dengan dua saudariku. Dalam hati aku merasakan bahwa jiwa mereka berada dalam bahaya besar. Rasa sakit merayapi hatiku ketika memikirkan mereka. Pernah ketika aku merasa sangat dekat dengan Allah, aku memohon dengan khusyuk kepada Tuhan untuk memberikan rahmat kepada mereka, dan Tuhan menjawab kepadaku, 

“Aku sedang memberi mereka bukan hanya rahmat yang mereka butuhkan, tetapi juga rahmat-rahmat istimewa.” 

Aku sadar bahwa Tuhan akan memanggil mereka kepada kesatuan yang lebih erat dengan Dia. Aku bersukacita luar biasa bahwa kasih yang sedemikian besar meraja di tengah keluarga kami. (BHSF #401)

Renungan 

Apakah anda menemukan bahwa hidup anda penuh dengan aktivitas? 

Apakah anda sering merasa terlalu sibuk untuk pergi dan berdoa? 

Meskipun ini bukan hal yang ideal, hal ini dapat diatasi dengan mencari peluang dalam kesibukan anda. Di acara sekolah, saat mengemudi, saat memasak atau bersih-bersih, kami selalu memiliki kesempatan untuk mengangkat pikiran dan hati kami kepada Tuhan dalam doa.

Ingatkan diri anda, hari ini, bahwa anda dapat berdoa di sebagian besar momen sepanjang hari. Berdoa terus-menerus, dengan cara ini, dapat memberikan kesunyian yang sangat anda butuhkan.

 


Doa 

Tuhan, aku rindu berada di hadirat-Mu sepanjang hariku. Aku rindu melihat-Mu dan selalu mencintai-Mu. Bantulah aku untuk berdoa kepada-Mu, di tengah aktivitasku, agar aku selalu berada di sisi-Mu. Yesus, Engkau andalanku.

 

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku
Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)
Refleksi Harian Kerahiman Ilahi