-->

Refleksi 99 : Bencana Dosa

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 99 : Bencana Dosa 

Mengapa Yesus menderita seperti yang Dia alami?

Mengapa Dia menerima cambukan yang begitu parah?

Mengapa kematian-Nya begitu menyakitkan? 

Karena dosa memiliki konsekuensi dan merupakan sumber penderitaan yang hebat. Tetapi penderitaan Yesus yang sukarela dan tanpa dosa mengubah penderitaan manusia sehingga sekarang memiliki kekuatan untuk menyucikan kita dan membebaskan kita dari dosa dan semua keterikatan pada dosa (Lihat Buku Harian #445). 

Buku Harian Santa Faustina 

(445) Kamis, Adorasi Malam. 

Ketika aku datang untuk adorasi, suatu permenungan batin langsung menguasai aku, dan aku melihat Tuhan Yesus terikat pada suatu tiang, dilucuti dari pakaian-Nya, dan seketika itu juga Ia mulai didera. Aku melihat empat laki-laki yang secara bergilir mendera Tuhan dengan cambuk-cambuknya. Jantungku hampir berhenti berdenyut menyaksikan penyiksaan itu. Tuhan berkata kepadaku, 

“Aku menderita siksaan yang bahkan lebih pedih daripada yang engkau saksikan.” 

Dan Yesus memberitahukan kepadaku demi dosa-dosa macam apa Ia rela menyerahkan diri-Nya untuk didera, yakni dosa melawan kemurnian. Oh, betapa mengerikan penderitaan moral Yesus selama Ia didera! Kemudian, Yesus berkata kepadaku, 

“Pandanglah dan lihatlah bangsa manusia dalam keadaannya yang sekarang.” 

Seketika itu juga, aku melihat hal-hal yang mengerikan: para algojo meninggalkan Yesus, dan orang lain mulai mendera Dia; mereka menimpakan deraan-deraan kejam dan memukuli Tuhan dengan tanpa belas kasihan. Mereka ini adalah para imam, biarawan dan biarawati, dan para pejabat tertinggi Gereja; semua ini membuat aku sangat tercenggang. Ada juga umat awam dari segala usia dan tingkat kehidupan. Semuanya menimpakan kebencian mereka atas Yesus yang tidak bersalah. Melihat ini, hatiku seolah-olah terjatuh dalam sakratulmaut. Dan sementara pada algojo mendera Dia, Yesus tetap diam dan menatap ke kejauhan; tetapi ketika jiwa-jiwa lain yang aku sebutkan itu mendera Dia, Yesus menutup mata-Nya, dan rintihan lembut tetapi sangat memilukan terlontar dari Hati-Nya. Dan, Yesus membuatku tahu dengan jelas betapa besarnya kejahatan jiwa-jiwa yang tidak tahu berterima kasih ini, 

“Engkau lihat, inilah siksaan yang lebih berat daripada kematian-Ku.” 

Kemudian bibirku pun terkatup rapat, dan aku mulai mengalami sakratul maut, dan aku merasakan bahwa tak seorang pun akan menghibur aku atau merenggut aku dari keadaan itu selain Dia yang telah menempatkan aku. Kemudian, Tuhan berkata kepadaku, 

“Aku melihat penderitaan hatimu yang tulus, yang membawa penghiburan besar kepada Hati-Ku. Lihatlah dan nikmatilah penghiburan.”  (BHSF #445) 

Renungan 

Apakah anda menyadari bahwa rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa yang Yesus alami adalah karena dosa anda sendiri? 

Penting untuk mengakui fakta yang merendahkan itu. Sangat penting untuk melihat hubungan langsung antara penderitaan-Nya dan dosa anda. Tapi ini seharusnya tidak menjadi penyebab rasa bersalah atau malu, itu harus menjadi penyebab rasa syukur. Kerendahan hati dan rasa syukur yang mendalam.

 


Doa 

Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu atas semua yang Engkau tanggung dalam Sengsara Kudus-Mu. Aku berterima kasih atas penderitaan dan Salib-Mu. Aku berterima kasih kepada-Mu karena menebus penderitaan dan mengubahnya menjadi sumber keselamatan. Bantu aku untuk membiarkan penderitaan yang kutanggung mengubah hidupku dan membersihkanku dari dosaku. Aku menyatukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu, Tuhan terkasih, dan kuberdoa agar Engkau menggunakannya untuk kemuliaan-Mu. Yesus, Engkau andalanku.


Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi