Hati Sang Juruselamat dalam Perjanjian Baru
Menyelami kasih Kristus yang dinyatakan dalam Injil, air hidup, Inkarnasi, kehidupan Nazaret, dan pengorbanan-Nya bagi umat manusia.
Misteri Hati Kristus tidak pertama-tama diungkapkan kepada dunia melalui wahyu-wahyu khusus yang diberikan kepada Santa Margareta Maria Alacoque pada abad ke-17.
Sebagaimana telah kita lihat dalam artikel sebelumnya dalam rangkaian ini, misteri tersebut berakar dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam nubuat-nubuat mengenai Mesias. Dan kini, sebagaimana akan kita lihat dalam bagian ini, misteri itu dinyatakan dengan kemuliaan yang jauh lebih besar dalam Perjanjian Baru.
Sesungguhnya, dalam Injil, Yesus sendiri mengarahkan kita kepada misteri Hati-Nya. Tuhan kita berseru kepada orang-orang di Galilea:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Pada kesempatan lain, dalam perayaan Hari Raya Pondok Daun di Yerusalem, Tuhan kita berkata:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! ... Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”
Kedamaian bagi Jiwa Kita
Singkatnya, Yesus menjanjikan bahwa di dalam Hati-Nya kita dapat menemukan ketenangan bagi jiwa kita yang letih serta kesegaran bagi jiwa kita yang haus.
Ketika setiap hari kita datang kepada-Nya dalam doa, janji-janji ini menjadi nyata dalam pengalaman pribadi kita. Yesus mencurahkan kepada kita kasih Hati-Nya yang tak terselami dan tak pernah habis melalui karunia Roh Kudus. Roh Kudus membantu kita memikul beban-beban kehidupan dan memberikan terang serta kekuatan yang kita perlukan untuk mengikuti Tuhan sebagai murid-murid-Nya yang sejati.
Pada suatu ketika, Yesus memandang orang banyak yang datang untuk mendengarkan-Nya dan berkata:
“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak.”
Perikop ini juga dapat diterjemahkan sebagai:
“Hati-Ku tergerak oleh rasa iba kepada orang banyak.”
Perhatikan bahwa dalam ketiga perikop Injil tersebut, Yesus tidak memberikan batas-batas sosial apa pun terhadap kasih yang berasal dari Hati-Nya.
Ia mengundang “semua orang yang letih lesu dan berbeban berat” serta “barangsiapa” yang haus untuk datang kepada-Nya. Belas kasih-Nya juga menjangkau setiap orang yang berada di antara orang banyak.
Pada zaman Tuhan kita, hal ini berarti kasih-Nya mencakup laki-laki maupun perempuan, orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain, orang kaya maupun miskin, budak maupun orang merdeka, orang sakit maupun orang sehat, bahkan orang yang percaya maupun yang belum percaya.
Darah dan Air dari Hati Sang Juruselamat
Semua itu dinyatakan dengan sangat jelas di atas kayu salib. Ketika lambung Yesus ditikam dengan tombak, mengalirlah dari Hati-Nya darah dan air (lihat Yohanes 19:34). Darah dan air tersebut melambangkan seluruh rahmat kasih-Nya yang berbelas kasih, terutama rahmat yang dicurahkan-Nya kepada dunia melalui Sakramen Baptis dan Ekaristi Kudus.
Pada abad kedua Masehi, Santo Ireneus dari Lyon mengingatkan umat Kristiani bahwa Gereja, yakni Tubuh Kristus di dunia, adalah:
Melalui kehidupan doanya dan melalui rahmat sakramental yang diberikan kepadanya, kasih penuh kemurahan hati Yesus Kristus mengalir kepada umat manusia.
Kasih itu merupakan anugerah yang sepenuhnya cuma-cuma bagi siapa pun yang bersedia menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, dengan pertobatan dan iman, serta bagi siapa pun yang mau datang ke mata air air hidup ini untuk minum.
Air Hidup
Peristiwa ketika lambung Kristus ditikam di atas salib juga menggenapi nubuat Perjanjian Lama mengenai Mesias.
Sebagaimana telah kita lihat, Yohanes 7:37-38 menceritakan bahwa Yesus menjanjikan kepada semua orang yang haus bahwa mereka dapat datang kepada-Nya dan menerima “air hidup”, yaitu Roh Kudus yang memberikan kehidupan (lihat Yohanes 7:39).
Dan di atas salib, Allah menunjukkan bahwa karunia cuma-cuma tersebut, yang mengalir dari Hati Putra-Nya, telah diperoleh bagi kita dengan harga darah-Nya sendiri.
Dengan demikian, kata-kata Nabi Yesaya kini menjadi nyata:
“Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.”
“Mata air” air hidup itu jelas menunjuk kepada Hati Yesus, yang melimpah dengan kasih penuh belas kasih kepada kita dan dicurahkan kepada kita terutama melalui Tubuh-Nya di dunia, yaitu Gereja.
Dalam Injil, Yesus bukan hanya berbicara tentang Hati-Nya dan menunjukkan bahwa Hati-Nya adalah sumber rahmat keselamatan—yang dilambangkan oleh darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya di kayu salib. Lebih dari itu, seluruh kisah Injil mengenai kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus, dari awal sampai akhir, menyatakan kasih Hati-Nya kepada Bapa di surga dan kepada seluruh umat manusia.
Ikon Verbal tentang Hati Yesus
Hal ini bukanlah suatu kebetulan.
Melalui Injil, Tuhan kita bermaksud memberikan kepada semua generasi semacam “ikon verbal”—gambaran dalam kata-kata— mengenai Hati-Nya yang penuh kasih. Gambaran ini merupakan bagian penting dari cara-Nya untuk menarik hati setiap manusia kepada-Nya.
Pastor Verheylezoon menulis dalam Devotion to the Sacred Heart (hlm. 113-114):
Kasih Murni bagi Kita
Sejak awal kisah Injil, kita melihat Putra Allah yang ilahi, karena kasih-Nya yang murni kepada kita, mengambil rupa manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Ia berbagi dengan kita seluruh keadaan dan keterbatasan kehidupan manusia, bahkan kelemahan serta ketidakberdayaan seorang bayi manusia.
Pastor Mateo Crawley-Boevey, SSCC, merenungkan misteri ini dalam bukunya Jesus, King of Love (edisi Boston: Daughters of St. Paul, 1978, hlm. 116-117):
Hal yang kurang lebih sama dapat dikatakan mengenai kehidupan tersembunyi Sang Juruselamat di Nazaret. Di sana Ia membantu keluarga-Nya dan bekerja sebagai seorang pekerja biasa selama hampir 30 tahun.
Pastor Mateo menjelaskan:
Kemudian Pastor Mateo menambahkan doa berikut:
Dengan kata lain, Ia mencurahkan diri-Nya dalam kasih bagi kita dengan turun dari surga dan sepenuhnya mengambil bagian dalam kondisi manusia.
Sepenuhnya Manusia
Ketika memulai pelayanan-Nya di Galilea, Putra Allah tidak meninggalkan komitmen-Nya untuk mengambil bagian dalam suka dan duka, pergumulan dan penderitaan kehidupan manusia sehari-hari.
Kadang-kadang kita membayangkan bahwa ketika meninggalkan rumah-Nya yang sederhana di Nazaret dan tampil di depan umum untuk mewartakan Kerajaan Allah serta melakukan tanda-tanda mukjizat yang menunjukkan kedatangannya, Yesus seolah-olah telah meninggalkan kelemahan manusiawi-Nya.
Namun justru sebaliknya.
Pastor Verheylezoon merangkum bukti-buktinya dalam Devotion to the Sacred Heart (hlm. 67):
Singkatnya, Putra Allah yang ilahi menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia dengan datang ke tengah-tengah kita sebagai salah seorang dari kita dan sungguh-sungguh mengambil bagian dalam keadaan hidup kita.
Sebagaimana dikatakan Pastor Verheylezoon:
Karena itu, tidak seorang pun memahami keadaan manusia lebih baik daripada Yesus, Sang Juruselamat kita.
Sebagaimana dikatakan dalam Surat kepada Orang Ibrani, sekarang kita memiliki seorang Imam Besar di surga yang mampu merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebab Ia telah mengalami pencobaan dalam segala hal seperti kita, namun tanpa berbuat dosa.
Karena itu, kita dapat:
“dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.”
Catatan
(1) Dengan memberikan tanda baca pada ayat tersebut seperti ini, penulis menggunakan apa yang dikenal sebagai pembacaan “Efesus” (Ephesian reading), yang tampaknya paling sesuai dengan Yohanes 19:34-37 dan telah dikenal oleh banyak Bapa Gereja pada masa awal. Pembacaan ini juga disukai oleh Paus Pius XII dalam Haurietis Aquas. Lihat O’Donnell, Heart of the Redeemer, hlm. 42-46.
(2) Dikutip tanpa mencantumkan referensi sumber dalam James Kubicki, SJ, A Heart of Fire (Notre Dame: Ave Maria Press, 2012), hlm. 40-41.
Rangkaian ini akan dilanjutkan minggu depan dengan Bagian 5:
