-->

Refleksi 224 : Berbicara atau Tidak Berbicara

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 224 : Berbicara atau Tidak Berbicara 

Salah satu kecenderungan manusia yang umum adalah berbicara berlebihan dan menjelaskan diri kita kepada orang lain, terutama untuk membenarkan tindakan kita dalam pikiran mereka. Hal ini terutama terjadi ketika kita merasa bahwa orang lain salah memahami kita. Tetapi Yesus mengalami ini sampai tingkat yang paling tinggi ketika Dia berdiri di hadapan Herodes dan Pilatus. 

Dalam kasus ini, Dia tetap diam. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa ada banyak waktu ketika Tuhan kita memanggil kita untuk tetap diam dalam menghadapi kesalahpahaman. Tentu, ada saat-saat lain ketika Dia memanggil kita untuk berbicara dengan bebas dan terbuka kepada orang lain tentang jiwa kita dan pikiran batin kita, tetapi kita harus berusaha untuk memahami Kehendak-Nya dalam setiap situasi dan mengetahui bahwa keheningan, dalam situasi tertentu, adalah apa yang Dia panggil untuk kita. 

Tetap diam, kadang-kadang, akan menghasilkan lebih banyak buah yang baik daripada kata-kata yang berlebihan. Berusahalah untuk meniru keheningan Tuhan kita pada saat-saat itu, (Buku Harian #1164). 

Buku Harian Santa Faustina 

(1164) “Putri-Ku, ketika dihadapkan kepada Herodes, Aku menyiapkan suatu rahmat bagimu, yakni supaya engkau mampu bangkit mengatasi cemohan manusia dan dengan setia mengikuti langkah-langkah kaki-Ku. Diamlah kalau mereka tidak mau menerima kebenaranmu sebab dengan demikian engkau justru berbicara lebih lantang.” (BHSF #1164) 

Renungan 

Apakah ada saat-saat ketika anda merasa bahwa orang lain tidak memahami anda? 

Ini bisa sulit dan bahkan menyakitkan. Perhatikan bahwa pada saat-saat ini anda mungkin cenderung mencari cara untuk menjelaskan diri anda kepada orang lain dan mempertahankan kehormatan anda. Tetapi keheningan pada saat-saat itu mungkin sebenarnya adalah panggilan Tuhan kita untuk anda rangkul.

Renungkan Yesus, berdiri di hadapan Herodes dan Pilatus, dan renungkan keheningan-Nya dalam menghadapi penghakiman.

Ketahuilah bahwa anda juga akan dipanggil untuk menanggung saat-saat seperti ini dan, sesuai dengan Kehendak Tuhan yang misterius, tindakan diam ini akan memenangkan lebih banyak rahmat untuk keselamatan jiwa daripada semua kata yang dapat anda ucapkan. 

 


Doa

Tuhan, beri aku hikmat agar aku tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Aku ingin meniru keheningan-Mu yang sempurna dan menanggung kesalahpahaman yang Engkau alami. Pada saat-saat ini, berilah aku rahmat untuk meniru kerendahan hati-Mu sebagaimana aku meniru-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.