-->

Refleksi 230 : Kontradiksi Salib

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 230 : Kontradiksi Salib 

Kita seharusnya tidak pernah bosan merenungkan luka-luka Kristus. Setiap luka yang Ia terima tidak dibenarkan dan disebabkan oleh dosa orang lain. Tangan dan kaki-Nya yang sempurna, alis dan punggung-Nya serta Hati Kudus-Nya seharusnya diperlakukan dengan penuh hormat, adorasi, dan perhatian. Tapi mereka tidak. Sebaliknya, mereka diperlakukan dengan kebencian dan pelecehan yang besar. 

Dari sudut pandang duniawi, ini tragis. Tetapi dari sudut pandang Ilahi, setiap luka, baik itu dari cambukan, duri, paku atau tombak, membuka mata air rahmat yang mengalir deras. Efek ini hanya mungkin sebagai hasil dari Rahmat Tuhan. Pikirkan setiap luka yang dialami Tuhan kita sebagai mata air bawah tanah atau air paling segar, yang memancar dari bumi untuk menyediakan makanan bagi semua. Dari sungai yang mengalir karena mata air Rahmat ini,(Lihat Buku Harian#1190). 

Buku Harian Santa Faustina 

 (1190) Yesus. 

“Dari semua luka-Ku, laksana dari mata air, kerahiman mengalir kepada jiwa-jiwa; tetapi, luka yang ada di dalam Hati-Ku adalah sumber kerahiman yang tak terselami. Dari sumber ini, mengalirlah segala rahmat kepada jiwa-jiwa. Api belas kasih membakar Aku. Aku sangat ingin mencurahkan belas kasih-Ku atas jiwa-jiwa. Berbicaralah kepada seluruh dunia tentang kerahiman-Ku.” (BHSF #1190) 

Renungan 

Renungkan, hari ini, luka-luka Yesus. Cobalah untuk melihat mereka dan untuk memahami rasa sakit yang Dia alami. Saat anda melakukan ini, lihat juga di balik cambukan dan trauma kedagingan yang disebabkan oleh kebrutalan para penganiaya-Nya. 

Renungkan mata air Rahmat yang terbuka dengan setiap luka. Sadarilah aliran rahmat yang mengalir dari luka-luka ini dan biarkan diri anda merasakan kesegaran yang mereka berikan. Belas kasihan telah muncul dari penderitaan Kristus. Sekarang Dia ingin membanjiri anda dengan Rahmat dan mencurahkan Rahmat dari luka-luka yang juga anda derita.

 


Doa

Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu atas kuasa-Mu yang tak terbatas dan karena melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan. Engkau membiarkan Diri-Mu dipukuli dan dicambuk dan dari kedengkian ini dihasilkan mata air kehidupan baru. Semoga aku mandi di air ini, Tuhan yang terkasih, dan semoga aku juga membiarkan luka ku menjadi sumber rahmat-Mu bagi dunia yang membutuhkan. Yesus, aku percaya pada-Mu.