-->

Refleksi 26 : Menyatukan Salib Pada Kedalaman Jiwa Anda Dengan Kristus

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari  bersama  Santa Faustina

 

 

Refleksi 26 : Menyatukan Salib Pada Kedalaman Jiwa Anda Dengan Kristus 

Saat anda semakin dekat dengan Tuhan, anda akan kadang-kadang, merasakan banyak hal. Beberapa akan menghadapi perasaan penolakan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah menolak kita tetapi perasaan penolakan batin bisa menjadi nyata. Hal ini menyebabkan beberapa orang putus asa. Jika anda menemukan diri anda, sekarang atau di masa depan, bergumul dengan keputusasaan, jangan takut dan jangan menyerah. Biarkan Tuhan datang kepada anda dalam pengalaman itu dan hadir kepada anda saat anda menderita melaluinya (Lihat Buku Harian #23). 

Buku Harian Santa Faustina 

(23) Menjelang akhir tahun pertama novisiatku, kegelapan mulai membayangi seluruh jiwaku. Aku merasakan tidak ada penghiburan dalam doa; untuk dapat bermeditasi, aku harus berusaha sekuat tenaga; ketakutan mulai melanda hatiku. Semakin dalam aku merenungi diriku, semakin aku tidak menemukan apa-apa selain kesedihan yang mencekam. Aku pun dapat melihat dengan jelas kekudusan Allah yang agung. Aku tidak berani mengangkat mataku kepada-Nya, tetapi merebahkan diriku ke tanah ke bawah kaki-Nya dan memohon belas kasih-Nya. Hampir enam bulan jiwaku berada dalam keadaan seperti ini. Di saat-saat yang sulit ini, Muder Pembimbing kami yang terkasih membesarkan hatiku. Tetapi, semakin hari penderitaan itu semakin berat. 

Tahun kedua novisiat sudah semakin dekat. Setiap kali merenungkan bahwa aku harus mengikrarkan kaul-kaulku, jiwaku merasa ngeri. Aku tidak dapat memahami apa yang sedang aku baca; aku tidak dapat bermeditasi; aku merasa bahwa doa-doaku tidak berkenan di hati Allah. Tetapi, kendati semuanya itu, bapak pengakuanku tidak mengizinkan aku melewatkan satu komuni kudus pun. Allah sedang bekerja dengan sangat aneh di dalam jiwaku. Aku tidak memahami sama sekali tentang apa yang dikatakan bapak pengakuanku kepadaku. Kebenaran-kebenaran iman yang sederhana pun menjadi sulit aku mengerti. Jiwaku sangat sedih, tidak mampu menemukan penghiburan di mana pun. 

Pada titik tertentu, muncul dalam hatiku kesan yang amat kuat bahwa aku ditolak oleh Allah. Pemikiran yang mengerikan ini sangat menusuk hatiku; di tengah-tengah penderitaan itu jiwaku mulai mengalami sakratulmaut. Aku ingin mati tetapi tidak bisa. Dalam hatiku muncul pemikiran; apa gunanya mengupayakan keutamaan-keutamaan; mengapa harus bermati raga kalau semua itu ditolak oleh Allah? Ketika aku memberitahukan hal ini kepada Pembimbing para novis, aku mendapat jawaban ini, 

“Ketahuilah, Suster, bahwa Allah telah memilihmu untuk meraih kesucian yang tinggi. Ini adalah tanda bahwa Allah menghendaki Suster hidup sangat dekat dengan Dia di surga. Hendaknya Suster sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan Yesus. 

Pemikiran mengerikan bahwa telah ditolak oleh Allah sungguh merupakan siksaan yang diderita oleh orang terkutuk. Aku berlari kepada luka-luka Yesus dan mengulangi kata-kata penyerahanku, tetapi kata-kata itu menimbulkan siksaan yang semakin menyakitkan dalam diriku. Aku pergi ke hadapan Sakramen Mahakudus, dan aku mulai berbicara kepada Yesus, 

“Yesus, Engkau berkata bahwa lebih mudah seorang ibu melupakan bayinya daripada Allah melupakan ciptaan-Nya, dan kalaupun ada ibu yang dapat melupakan bayinya, Aku Allah, tidak pernah akan melupakan ciptaan-Ku. O Yesus, tidakkah Engkau mendengar betapa jiwaku mengeluh? Sudilah mendengarkan rintihan-rintihan yang memilukan dari anak-Mu. Aku mengandalkan Engkau, ya Allah, sebab surga dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Mu akan bertahan selama-lamanya.” 

Tetapi, aku tetap tidak menemukan saat kelegaan. (BHSF #23)

Renungan 

Lanjutkan untuk melihat jauh ke dalam hati anda hari ini. 

Apa yang kamu lihat? 

Jika menyakitkan untuk melihat ke dalam, maka ketahuilah bahwa rasa sakit ini adalah jalan menuju Tuhan. Ini mungkin tidak masuk akal dan mungkin sulit, tetapi Allah Bapa memilih jalan Salib bagi Anak. 

Dengan merangkul Salib-Nya baik secara lahiriah maupun batiniah, Yesus menyatukan seluruh kodrat manusia dengan Ketuhanan-Nya. 

Biarkan penderitaan anda menjadi sarana kekudusan anda hari ini dan sumber kesatuan anda dengan Tuhan. 




Doa 

Tuhan, ketika aku terus melihat jauh ke dalam hatiku, bantu aku untuk melihat diriku seperti Engkau melihatku. Bantu aku untuk memilah rasa sakit dan penderitaan yang kubawa. Dan bantulah aku untuk dengan bebas menyatukan rasa sakit batin itu dengan Salib-Mu seperti yang Engkau lakukan. Dalam tindakan ini, bantu aku untuk menemukan Kerahiman Ilahi yang Engkau menangkan untuk dunia. Yesus, aku percaya pada-Mu.


Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi