-->

Refleksi 263 : Tuhan sebagai Juru Mudimu di Tengah Badai

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 263 : Tuhan sebagai Juru Mudimu di Tengah Badai 

Bayangkan menjadi anak kecil di atas perahu kecil di tengah laut. Badai mulai terjadi dan anda tidak dapat melihat daratan ke segala arah. Anda terombang-ambing dalam gelombang saat mereka menutupi haluan dengan setiap tabrakan dan anda bertanya-tanya bagaimana anda akan bertahan. 

Sekarang bayangkan ayahmu juga ada di perahu bersamamu. Dia memberitahu anda untuk duduk dan bertahan dan semuanya akan baik-baik saja. Dia percaya diri dan bertanggung jawab dan tidak menunjukkan rasa takut. Keyakinan yang dipancarkan ayah anda menenangkan anda dan anda percaya bahwa dia akan membuat anda tetap aman. 

Ini adalah gambaran hidup kita. Ketika kita menghadapi krisis, kita harus menyadari bahwa kita hanyalah seorang anak kecil di tengah lautan badai yang membutuhkan Tuhan kita yang Maha Pengasih. Bodoh sekali jika seorang anak mencoba mengambil alih perahu. Bodoh juga jika kita mencoba mengatur hidup kita sendiri. Kita membutuhkan keyakinan Yesus yang teguh untuk menenangkan hati kita. Tuhan harus menjadi jurumudi anda setiap kali ombak mulai naik. Jangan meragukan kemampuan-Nya untuk menangani segala sesuatu dalam hidup (Lihat Buku Harian #1322). 

Buku Harian Santa Faustina 

(1322) Sampan hidupku terus berlayar di tengah kegelapan dan bayangan malam, dan aku tidak melihat pantai; aku mengarungi samudra luas. 

Badai yang paling riangan pun dapat menenggalamkan aku, menelan perahuku dalam pusaran yang dalam, kalau Engkau sendiri tidak memperhatikan aku, ya Allah, dalam setiap saat dan kesempatan hidupku. 

Di tengah ombak yang menderu aku berlayar dengan tenang, penuh pengharapan, dan seperti seorang anak, menatap ke kejauhan tanpa takut, sebab Engkau, o Yesus, menjadi Cahayaku. 

Kengerian dan ketakutan ada di sekelilingku, tetapi dalam jiwaku ada damai yang lebih dalam daripada jurang samudra, karena yang beserta-Mu, o Tuhan, tidak akan binasa; hal ini dijamin padaku oleh kasih ilahi-Mu, ya Allah. 

Meskipun beragam bahaya mengerumuni aku, tidak suatu pun menakutkan aku, karena aku terus menatap langit yang bertaburan bintang, dan aku terus berlayar dengan berani dan penuh sukacita, karena pantaslah demikian bagi hati yang murni. 

Dan kalau perahu hidupku berlayar begitu tenang, itu tidak lain karena satu hal ini: Engkaulah Juru Mudiku, ya Allah, aku mengakuinya dengan segala kerendahan hati. (BHSF #1315) 

Renungan 

Apa yang anda lakukan ketika badai kehidupan datang? 

Apakah anda panik? 

Apakah anda mencoba mengambil kendali dan menangani semuanya sendiri? 

Atau apakah anda mengarahkan mata anda pada kekuatan dan kepercayaan Tuhan kita dan membiarkan Dia mengendalikan situasi? 

Berpaling kepada Yesus bukan hanya soal duduk dan tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, berpaling kepada-Nya dengan meninggalkan adalah tindakan kepercayaan terbesar. Kepercayaan itu, ketika semua tampak kacau dan membebani, membuka pintu kedamaian-Nya dan menjaga anda tetap aman, apa pun yang menghadang anda. Renungkan cara anda menangani kesulitan dalam hidup dan buatlah pilihan sadar untuk berpaling kepada Juru Mudi Ilahi untuk mengarahkan hidup anda melewati badai. 

 


Doa 

Tuhan, aku berpaling kepada-Mu dengan keyakinan dan memilih untuk menaruh kepercayaan penuhku pada-Mu. Aku tahu bahwa Engkau dapat menangani semua hal dan bahwa kasih dan perhatian-Mu akan membuat aku aman. Tingkatkan kepercayaanku kepada-Mu, ya Tuhan, dan tolonglah hatiku untuk selalu tetap damai.  Yesus, Engkau andalanku.