-->

Refleksi 37 : Kerendahan Hati, Kesederhanaan dan Ketulusan

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari  bersama  Santa Faustina

 


Refleksi 37 : Kerendahan Hati, Kesederhanaan dan Ketulusan 

Ada tiga kata untuk direnungkan hari ini: kerendahan hati, kesederhanaan dan ketulusan

Jiwa-jiwa yang rendah hati melihat dan mengenal Tuhan karena mereka tidak berpaling kepada diri mereka sendiri dalam kebutuhan mereka. Mereka mengakui bahwa Tuhan adalah segalanya dan, tanpa Dia, mereka bukan apa-apa. 

Jiwa yang sederhana tidak terjebak dalam kerumitan hidup. Mereka mampu memotong gangguan yang tak terhitung jumlahnya dan menjalani kepercayaan seperti anak kecil kepada Tuhan. 

Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang jujur ​​yang suci hatinya dan murni niatnya. Jujur dan jujur ​ dalam perjalanan Kristen anda dan Tuhan akan menguasai semua yang bukan dari Dia dalam hidup anda (Lihat Buku Harian #55). 

Buku Harian Santa Faustina 

(55) 1933. Nasihat rohani yang diberikan kepadaku oleh Pastor Andrasz, SJ. 

  • Pertama: Suster tidak boleh menghindar dari inspirasi batin ini, tetapi katakanlah selalu semua itu kepada bapak pengakuanmu. Kalau Suster yakin bahwa inspirasi batin itu tidak hanya berkaitan dengan dirimu sendiri, artinya semua itu bermanfaat untuk jiwamu dan untuk jiwa-jiwa lain, aku mendesak Suster untuk mengikutinya; Suster tidak boleh mengabaikannya, tetapi selalu melakukannya dengan berkonsultasi dengan bapak pengakuanmu. 

  • Kedua: Kalau inspirasi batin itu tidak selaras dengan iman dan semangat Gereja, harus langsung ditolak sebagai sesuatu yang datang dari roh jahat. 

  • Ketiga: Kalau inspirasi itu tidak berkaitan dengan jiwa-jiwa pada umumnya, atau tidak sungguh bermanfaat bagi mereka, Suster hendaknya tidak menanggapinya terlalu serius, dan kiranya akan lebih baik untuk mengabaikannya. 

Tetapi, hendaknya Suster tidak mengambil keputusan seorang diri sebab dengan mudah akan tersesat meskipun rahmat-rahmat ilahi yang besar. Rendah hatilah, rendah hatilah, dan sekali lagi rendah hatilah, karena manusia tidak dapat berbuat suatu pun dari dirinya sendiri; segala sesuatu itu murni karena rahmat Allah. 

Suster berkata kepadaku bahwa Allah menuntut kepercayaan yang besar dari jiwa-jiwa; maka, Suster harus menjadi orang pertama yang menunjukkan kepercayaan itu. 

Dan satu kata lagi - terimalah semua ini dengan pikiran yang jernih. 

Inilah kata-kata dari salah seorang bapak pengakuan, 

“Suster, Allah sedang mempersiapkan banyak rahmat istimewa bagimu, tetapi berusahalah membuat hidupmu sebening tetes air mata di hadapan Tuhan, dengan tanpa memperdulikan apa yang dipikirkan orang lain tentang Suster. Biarlah Allah cukup bagimu; hanya Dia.” 

Menjelang akhir novisiatku, seorang bapak pengakuan berkata kepadaku, 

“Gunakanlah seluruh hidupmu untuk melakukan yang baik sehingga aku dapat menulis pada lembaran-lembaran hidupmu: ‘Ia menggunakan seluruh hidupnya untuk berbuat baik.’ Kiranya Allah mewujudkan semua ini dalam diri Suster.” 

Pada waktu yang lain bapak pengakuan berkata kepadaku, 

“Bersikaplah di hadapan Allah seperti janda miskin dalam Injil, meskipun uang yang ia masukkan ke dalam peti persembahan itu kecil nilainya, di hadapan Allah nilainya jauh lebih tinggi daripada semua persembahan besar dari orang-orang yang lain.” 

Pada kesempatan lain aku mendapat nasihat ini, 

“Berusahalah supaya semua yang datang bertemu denganmu akan pergi dengan penuh sukacita. Taburkanlah harumnya kebahagiaan di sekitarmu sebab kamu telah menerima banyak hal dari Allah; jadi, berilah dengan murah hati kepada orang lain. Hendaknya mereka meninggalkan kamu dengan hati yang lebih bahagia, juga kalaupun mereka hanya menyentuh pinggir jubahmu. Camkanlah baik-baik kata-kata yang saat ini kusampaikan kepadamu.” 

Pada kesempatan lain, ia masih memberiku anjuran berikut ini, 

“Biarlah Allah mendorong perahumu ke tempat yang dalam, menuju lubuk kehidupan batin yang tak terselami.” 

Inilah beberapa kata dari suatu percakapan yang aku adakan dengan Muder Pembimbing menjelang akhir masa novisiatku, 

“Suster, biarlah kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi ciri khas jiwamu. Jalanilah hidupmu bagaikan seorang anak kecil, yang selalu percaya, selalu polos dan rendah hati, puas dengan segala sesuatu, ceria dalam segala situasi. Sementara orang lain diliputi ketakutan, Suster akan melangkah dengan tenang, berkat kesederhanaan dan kerendahan hati. Suster, ingatlah ini sepanjang seluruh hidupmu sebagaimana air mengalir dari gunung turun ke lembah-lembah, demikian juga rahmat Allah mengalir hanya ke dalam jiwa-jiwa yang rendah hati.”  (BHSF #55)

Renungan 

Renungkan tiga karunia ini hari ini: 

  1. kerendahan hati,
  2. kesederhanaan,
  3. dan ketulusan. 

Seberapa baik anda menjalaninya dalam hidup anda? 

Jika salah satu menonjol sebagai yang paling menantang, maka duduklah dengan itu untuk sementara waktu. Biarkan Tuhan berbicara kepada anda saat anda membuka hati anda untuk Rahmat-Nya.

 


Doa 

Tuhan, aku membuka diri untuk karunia kerendahan hati, kesederhanaan dan ketulusan. Bantu aku untuk melihat mereka masing-masing sebagai hadiah berharga yang ingin Engkau berikan kepadaku. Semoga pikiran ku memahami mereka dan kehendak ku merangkul mereka. Yesus, aku percaya pada-Mu.


Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi