-->

Refleksi 39 : Hilangnya Penghiburan Spiritual

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari  bersama  Santa Faustina

 


Refleksi 39 : Hilangnya Penghiburan Spiritual 

Sangat mudah untuk jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa, karena kita mengikuti Yesus, kita harus terus-menerus dihibur dan dihibur dalam semua yang kita lakukan. 

Benarkah itu? Iya dan tidak. 

Di satu sisi, penghiburan kita akan berkelanjutan jika kita selalu memenuhi Kehendak Tuhan dan tahu bahwa kita sedang memenuhinya. Namun, ada kalanya Tuhan menghilangkan semua penghiburan spiritual dari jiwa kita karena cinta. 

Kita mungkin merasa seperti Tuhan jauh dan mengalami kebingungan atau bahkan kesedihan dan keputusasaan. Tapi saat-saat ini adalah saat-saat dari Rahmat terbesar yang bisa dibayangkan. Ketika Tuhan tampak jauh, kita harus selalu memeriksa hati nurani kita untuk memastikan itu bukan akibat dosa. 

Setelah hati nurani kita bersih, kita harus bersukacita atas hilangnya kehadiran Tuhan secara inderawi dan hilangnya penghiburan rohani. Mengapa? Karena ini adalah tindakan Rahmat Tuhan karena Dia mengundang kita untuk taat dan beramal terlepas dari apa yang kita rasakan.

Kita diberi kesempatan untuk mencintai dan melayani meskipun kita tidak merasakan penghiburan langsung. Hal ini membuat cinta kita tumbuh lebih kuat dan mempersatukan kita lebih kuat dengan Kerahiman Tuhan yang murni (Lihat Buku Harian #68). 

Buku Harian Santa Faustina 

(68) Penderitaan paling berat bagiku adalah perasaan bahwa, baik doa-doaku maupun perbuatan-perbuatan baikku tidak diperkenan oleh Allah. Aku tidak berani mengangkat mataku ke langit. Ini mengakibatkan dalam diriku penderitaan yang sedemikian berat waktu latihan rohani komunitas di kapel. Sesudah latihan rohani itu, Muder Superior memanggil dan berkata kepadaku, 

“Suster, mintalah rahmat dan penghiburan dari Allah sebab aku dapat melihat sendiri, dan para suster terus menerus mengatakan kepadaku, bahwa pandangan matamu membangkitkan keprihatinan. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan denganmu, Suster. Aku memerintahkan kepadamu untuk berhenti menyiksa diri tanpa alasan.” 

Tetapi, semua pembicaraan dengan Muder Superior ini tidak mendatangkan kelegaan dalam hatiku, juga tidak membuat suatu pun menjadi jelas bagiku. Sebaliknya, kegelapan yang bahkan lebih pekat menyembunyikan Allah dariku. Aku mencari pertolongan di kamar pengakuan, tetapi di sanapun aku tidak menemukannya. Seorang imam yang saleh ingin menolongku, tetapi aku begitu lemah sehingga aku bahkan tidak mampu menjelaskan penderitaanku, dan hal ini justru menjadi semakin menyiksa aku. Aku begitu sedih, seperti mau mati rasanya. Kesedihan itu meresapi jiwaku sedemikian rupa sehingga aku tidak mampu menyembunyikannya, dan semua orang yang ada di sekitar aku dapat melihatnya. Aku putus asa. Malam menjadi semakin gelap gulita. Imam yang mendengarkan pengakuanku berkata kepadaku, 

“Aku melihat rahmat-rahmat yang sangat istimewa dalam dirimu, Suster, dan aku tidak mencemaskanmu sama sekali; mengapa engkau menyiksa diri seperti ini?” 

Tetapi pada waktu itu, aku tidak paham sama sekali akan apa yang ia katakan dan aku luar biasa terkejut ketika, sebagai penitensi, aku disuruh melambungkan Te Deum atau Magnificat, atau berlari cepat keliling kebun pada petang hari, atau yang lain lagi untuk tertawa keras-keras sepuluh kali dalam sehari. Penitensi ini sangat mencengangkan aku; tetapi dengan itu pun imam itu tidak mampu memberikan banyak pertolongan kepadaku. Rupanya Allah menghendaki aku memuliakan Dia lewat penderitaan. 

Imam itu menghibur aku dengan berkata bahwa dalam situasi sekarang aku lebih berkenan di hati Allah daripada kalau hatiku dipenuhi dengan penghiburan yang paling menggembirakan. 

“Ini adalah rahmat yang paling besar, Suster,” 

katanya kepadaku, 

“dalam keadaanmu yang sekarang, dengan segala siksaan jiwa yang Suster alami, engkau tidak hanya tidak melanggar perintah Allah, tetapi engkau bahkan berusaha mengamalkan keutamaan-keutamaan. Aku mencoba memandang ke dalam jiwa Suster, dan aku melihat rencana-rencana agung Allah serta rahmat istimewa ada di sana; dengan melihat itu, aku bersyukur kepada Tuhan.” 

Tetapi, kendati semua itu, jiwaku masih tetap tersiksa; dan di tengah siksaan yang tak terperikan itu, aku meniru orang buta yang mempercayakan diri kepada bimbingannya, sambil memegang tangannya erat-erat, tidak melepaskan kepatuhannya sedikit pun, dan inilah satu-satunya jaminan keamananku dalam menghadapi cobaan yang amat berat ini. (BHSF #68)

Renungan 

Renungkan godaan untuk berpaling dari Tuhan saat anda merasa sedih atau tertekan. Lihat momen-momen ini sebagai hadiah dan kesempatan untuk mencintai ketika anda merasa tidak ingin mencintai. Ini adalah kesempatan untuk diubah oleh Kerahiman menjadi bentuk Kerahiman yang paling murni.



Doa 

Tuhan, aku memilih untuk mencintai-Mu dan semua yang Engkau tempatkan dalam hidupku terlepas dari apa yang kurasakan. Jika cinta orang lain membawa kepadaku penghiburan besar, aku berterima kasih. Jika mencintai orang lain itu sulit, kering dan menyakitkan, aku berterima kasih kepada-Mu. Tuhan, sucikan cintaku menjadi bentuk Kerahiman Ilahi-Mu yang lebih otentik. Yesus, aku percaya pada-Mu.


Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi