-->

Refleksi 107 : Mengungkapkan Jiwa Anda dalam Pengakuan

 Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 107 : Mengungkapkan Jiwa Anda dalam Pengakuan 

Allah mengirimkan kepada kita wakil-wakil-Nya dalam pribadi para imam-Nya. Meskipun imam tidak sempurna, mereka tetap wakil Tuhan. Hal ini terutama berlaku dalam Sakramen Tobat. Adalah penting bahwa kita mendekati Sakramen itu dengan keyakinan dan kejujuran. Kita harus membiarkan bapa pengakuan melihat dosa dalam jiwa kita sehingga dia bisa masuk, membersihkan dan menyembuhkan dengan kuasa absolusi yang suci (Lihat Buku Harian #494-496). 

Buku Harian Santa Faustina 

(494) Hari Kedua Retret. 

Ketika aku pergi ke kamar tamu untuk bertemu dengan Pastor Andrasz, aku merasa ketakutan sebab rahasia hanya mengikat di kamar pengakuan. Ini adalah suatu ketakutan yang tak berdasar. Satu kata dari Muder Superior sudah membuat aku merasa lega mengenai hal ini. Sementara itu, ketika aku masuk ke kapel, aku mendengar suara ini di dalam jiwaku, 

“Aku ingin engkau jujur dan sederhana seperti seorang anak dengan wakil-Ku sama seperti engkau jujur dan sederhana dengan Aku; kalau tidak, Aku akan meninggalkan engkau dan tidak akan bergaul denganmu.” 

Sungguh, Allah memberiku rahmat yang banyak yakni kepercayaan yang penuh dan, sesudah percakapan, Allah memberiku rahmat damai yang mendalam serta rahmat terang mengenai semua masalah ini. 

(495) Yesus, Terang Abadi, terangilah budiku, kuatkanlah kehendakku, nyalakanlah hatiku dan dampingilah aku seperti yang telah Engkau janjikan sebab tanpa Engkau aku ini bukan apa-apa. Engkau tahu, ya Yesus, betapa lemahnya aku. Sebenarnya, ya Yesus, aku tidak perlu memberitahukan hal ini kepada-Mu sebab Engkau sendiri mengetahui dengan paling tepat betapa malangnya aku. Pada-Mulah bertumpu seluruh kekuatanku. 

(496) Hari Pengakuan. 

Sejak pagi buta, gejolak dalam jiwaku lebih keras daripada yang pernah aku alami sebelumnya. Aku merasa sama sekali ditinggalkan oleh Allah; aku merasakan bahwa aku sungguh sangat lemah. Beragam pikiran berkecamuk dalam diriku: mengapa aku harus meninggalkan biara ini; di sini aku dicintai oleh para suster dan para superior; di sini kehidupan sedemikian tenang; [di sini aku] mengikat diri dengan kaul kekal dan melaksanakan tugas-tugasku tanpa kesulitan; mengapa aku harus mendengarkan suara hatiku; mengapa aku harus mengikuti suatu ilham yang tidak kuketahui dari mana datangnya; tidakkah lebih baik melanjutkan hidupku seperti semua suster yang lain? Barangkali kata-kata Tuhan dapat diabaikan, tidak diperhatikan; barangkali Allah tidak menuntut suatu pertanggungjawaban atasnya pada hari penghakiman. Ke mana suara batin ini akan menuntun aku? Kalau aku mengikutinya, betapa besarnya kesulitan-kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang menghadang aku. Aku takut akan masa depan dan sekarang ini aku sangat menderita. 

Sepanjang seluruh hari, penderitaan ini tidak berkurang sedikit pun. Pada petang hari ketika aku kembali untuk mengaku dosa, aku tidak dapat menjalani pengakuan dosa secara lengkap, meskipun aku sudah mempersiapkan diri dalam waktu yang lama. Aku menerima absolusi dan pergi, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi kepadaku. Ketika aku pergi tidur, penderitaan bahkan menjadi semakin erat; atau lebih tepat, penderitaan itu berubah menjadi suatu api yang membakar seluruh kemampuan jiwaku seperti sambaran halilintar, yang menembus sampai ke sumsum, dan sampai ke relung hatiku yang paling rahasia. Di tengah penderitaan ini, aku tidak mampu mengerjakan suatu pun. 

“Terjadilah kehendak-Mu, ya Tuhan.” 

Kadang-kadang bahkan aku tidak dapat memikirkan kata-kata ini. Sungguh, suatu ketakutan yang luar biasa mencekam aku, dan nyala api neraka menyentuh aku. Menjelang pagi, terjadilah keheningan yang luar biasa, dan dalam sekejap mata penderitaanku lenyap, tetapi aku merasa ngeri karena kehabisan tenaga sehingga aku bahkan tidak mampu bergerak. Dalam percakapanku dengan Muder Superior, kekuatanku sedikit demi sedikit pulih kembali, tetapi hanya Allah yang tahu bagaimana perasaanku sepanjang seluruh hari itu. (BHSF #494-496) 

Renungan 

Apakah anda pergi ke pengakuan dosa?

Jika demikian, seberapa sering?

Apakah anda lebih sering membersihkan rumah daripada membersihkan jiwa anda? 

Tuhan telah memberi anda karunia yang tak terukur dalam Sakramen Tobat. Dia mengundang anda untuk menerima hadiah ini dengan hati terbuka. Jangan takut dengan undangan ini; sebaliknya, larilah ke sana dengan penuh harap akan banyak rahmat yang ingin diberikan oleh Tuhan kita. Dan lakukan sesering mungkin.

 


Doa 

Tuhan, mengapa aku takut akan Kerahiman-Mu yang dianugerahkan melalui Sakramen Tobat? Mengapa aku takut Rahmat suci-Mu tercurah melalui tindakan absolusi? Berilah aku keberanian dan kerendahan hati agar aku dapat mengakui dosa-dosaku dengan jelas dan lengkap dan dengan demikian dibersihkan dan dikembalikan ke Hati-Mu., Yesus, Engkau andalanku.