-->

Refleksi 181 : Ketidakpedulian Suci

 

Refleksi Harian Tentang

Kerahiman Ilahi

365 Hari bersama Santa Faustina

 


Refleksi 181 : Ketidakpedulian Suci 

Apakah penting apa Kehendak Tuhan bagi anda?

Itu mungkin terdengar seperti pertanyaan aneh pada awalnya. Tapi pikirkanlah.

Apakah penting apa yang Tuhan kehendaki dari anda?

Bagaimana jika Dia memanggil anda untuk terus bekerja?

Atau bagaimana jika Dia memanggil anda untuk istirahat yang tenang?

Atau bagaimana jika Dia memenuhi anda dengan sukacita?

Atau singkirkan semua kesenangan dari jiwamu?

Atau memanggil anda untuk dipuji dan dihormati di depan banyak orang?

Atau menarik anda ke dalam gurun kesunyian dan ketersembunyian?

Yang benar adalah bahwa yang penting bukanlah apa panggilan Tuhan dalam hidup kita, yang penting adalah panggilan-Nya. Kita harus berjuang untuk ketidakpedulian yang kudus dalam hidup kita. Ketidakpedulian yang “suci” bukanlah ketidakpedulian terhadap Tuhan dan Kehendak-Nya; sebaliknya, ketidakpedulian yang suci adalah pelepasan terhadap semua preferensi mengenai apa yang Tuhan minta dari kita. Kita harus siap untuk semua tetapi kita harus bersedia untuk tidak menerima apa pun. Tujuannya adalah untuk siap menghadapi Tuhan dan Kehendak-Nya, apapun itu (Lihat Buku Harian #952). 

Buku Harian Santa Faustina 

(952) Yesusku, Engkau tahu bahwa kehendak kudus-Mu adalah segala-galanya bagiku. Tidaklah menjadi masalah bagiku, apa yang Engkau lakukan terhadapku. Begitu Engkau menyuruh aku untuk mulai bekerja, aku pun memulainya dengan tenang meskipun aku tahu bahwa aku tidak mampu untuk melaksanakannya; ketika lewat wakil-wakil-Mu Engkau menyuruh aku menunggu - maka aku menunggu dengan sabar; Engkau memenuhi jiwaku dengan antusiasme - tetapi Engkau tidak menciptakan kemungkinan bagiku untuk bertindak; Engkau menarik aku kepada diri-Mu sendiri di surga - tetapi Engkau membiarkan aku tetap tinggal di bumi ini; ke dalam jiwaku Engkau mencurahkan kerinduan yang amat besar terhadap diri-Mu sendiri, tetapi Engkau menyembunyikan diri dariku. Aku sekarat karena ingin dipersatukan dengan-Mu selama-lamanya, tetapi Engkau tidak membiarkan kematian menghampiri aku. 

O kehendak Allah, engkaulah makanan dan kesukaan jiwaku. Ketika aku menyerahkan diri kepada kehendak kudus Allahku, suatu damai yang luar biasa membanjiri jiwaku. 

O Yesusku, Engkau tidak memberi aku ganjaran karena mengamalkan karya yang berhasil, tetapi karena sudah menunjukkan kehendak yang baik dan kerja yang keras. Oleh karena itu, aku sungguh-sungguh merasakan damai, juga kalau usaha-usaha dan kerja kerasku digagalkan atau tidak pernah diwujudkan. Asalkan aku sudah melaksanakan segala sesuatu yang ada dalam kekuasaanku, sisanya bukanlah urusanku. Dan karena itu, badai terbesar pun tidak mengacaukan lubuk damaiku; kehendak Allah bersemayan di dalam hati nuraniku.   (BHSF #952) 

Renungan 

Renungkan apakah anda siap dan bersedia menerima apa pun yang Tuhan kehendaki dari anda.  Apa yang Dia kehendaki tidak sepenting kenyataan yang Dia kehendaki. Ini mungkin kehalusan yang sulit untuk dipahami pada awalnya. Tapi penting untuk dipahami. Kebenaran yang sederhana adalah bahwa kita harus siap untuk apa pun yang Tuhan minta dari kita tanpa bergantung pada preferensi pribadi kita. Jika anda dapat mencapai tingkat ketidakterikatan ini, Rahmat Tuhan akan mulai mengalir berlimpah dalam hidup anda, dan melalui anda ke dalam kehidupan banyak orang lain.

 


Doa 

Tuhan, aku menyerahkan kepada-Mu semua preferensi egoisku dalam hidup. Aku memberi Engkau kebebasan penuh untuk melakukan apa pun yang Engkau kehendaki dalam hidupku. Tidak peduli apa yang Kau minta dariku, aku menerima, dan tidak peduli apa yang Kau ambil dariku, aku berikan kepada Mu. Beri aku, ya Tuhan, rahmat dari ketidakpedulian yang suci sehingga aku bisa bebas untuk mencintai-Mu dan Kehendak-Mu yang suci lebih dari hidup itu sendiri. Yesus, aku percaya pada-Mu.

 

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku

Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku (Audio)

Refleksi Harian Kerahiman Ilahi